Lezatnya Berbisnis Panganan Coklat

Sabtu, 28/01/2012

Kelezatan cokelat memang tak pupus memberi inspirasi, termasuk untuk membuka bisnis panganan yang tak lekang oleh waktu dari generasi ke generasi.

Neraca. Bisnis cokelat memang menawarkan janji keuntungan nan menggiurkan, tak hanya saat momen valentine, cokelat seakan menjadi panganan yang abadi. Menjamurnya bisnis coklat, dapat kita lihat dari makin maraknya toko kue dan outlet yang khusus menjual aneka cokelat dengan variasinya.

Pada awalnya, pebisnis yang terjun menggeluti usaha coklat mengakui hanya sebatas hobi, namun tidak disangka, hobi pun dapat berkembang menjadi usaha yang cukup memberikan keuntungan. Usaha cokelat hias ternyata tidak membutuhkan modal yang terlalu besar, tapi Anda harus telaten, sedikit keterampilan dan memiliki strategi yang jitu.

Untuk memulai bisnis coklat, pilihlah lokasi yang Anda nilai cukup strategis, sesuai dengan pasar yang dituju. Apakah anak sekolah, pekerja kantor, atau mahasiswa. Bahkan bila Anda membidik pasar semua generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua, maka milikilah minimal satu produk unggulan atau spesial menu yang tidak di miliki oleh toko atau outlet lain.

Pada dasarnya ada tiga jenis cetakan coklat yang banyak digunakan oleh para pembuat coklat. Ketiga jenis cetakan itu adalah Mika, Silikon dan Akrilik. Cetakan coklat Mika adalah yang paling sering digunakan oleh para pembuat coklat karena paling mudah ditemukan dan harganya murah.

Cetakan coklat jenis ini dapat ditemukan di pasar dan semua toko yang menjual perlengkapan untuk membuat kue dan coklat. Harganya bervariasi antara enam ribu rupiah sampai Rp 50 ribu. Karena harganya relatif murah dan semua orang dapat membelinya, maka bentuk yang dihasilkan cenderung pasaran dan terkesan murahan. Ada memang yang cukup unik, tapi dibutuhkan usaha extra untuk mencarinya. Coklat yang dibuat dengan cetakan ini hasilnya cukup baik, tapi masih kalah jauh bila dibandingkan dengan cetakan silikon atau akrilik.

Untuk perawatan jenis cetakan ini cukup mudah. Setelah digunakan, cukup cuci dengan air hangat lalu di kipas-kipaskan agar air yang menempel agak berkurang. Setelah itu lap dengan kain bersih yang halus agar permukaan cetakan tidak tergores. Setelah itu simpan di tempat yang kering dan bebas debu agar warnanya tidak berubah menjadi kekuningan.

Ada pula cetakan coklat Silikon, seperti namanya, cetakan ini berbahan silikon, yang secara fisik lebih kokoh bila dibandingkan dengan cetakan berbahan mika, namun cetakan ini cukup elastis. Cetakan coklat berbahan silikon ini belum dapat dibuat di Indonesia sehingga masih harus di impor dari luar negri.

Akibatnya harga cetakan berbahan silikon ini cukup mahal, sekitar Rp 135-150 ribu dengan kurs dollar saat ini. Cetakan coklat silikon ini hanya tersedia di tempat-tempat tertentu saja dan tidak tersedia di setiap toko kue. Coklat yang dibuat menggunakan cetakan coklat ini memiliki permukaan yang sangat halus dan mengkilap, Bentuknya terkesan eksklusif dan mahal. Untuk perawatannya hampir sama dengan cetakan berbahan mika.

Cetakan ketiga adalah cetakan coklat Akrilik. Secara fisik seperti kaca, bobotnya berat dan jika terjatuh bisa pecah. Menimbang harganya yang sangat mahal yaitu sekitar Rp 160-200 ribu maka perlakuan terhadapnya pun harus sangat hati-hati. Tidak segampang perlakuan terhadap cetakan cokelat Mika dan Silikon. Cetakan cokelat jenis ini juga masih harus diimpor dari luar negri dan tidak terdapat juga di sembarang toko bahan kue. Cokelat yang dihasilkan dari cetakan jenis ini sangat bagus, hampir sama seperti dengan menggunakan cetakan cokelat Silikon. Dan bentuknya pun tak kalah ekslusif dengan bentuk-bentuk cetakan cokelat Silikon.

Agar coklat tak mudah meleleh, kita ulas dalam proses pembuatan coklat, yaitu Grinding and Pressing. Proses ini adalah penggerusan biji kakao menjadi serbuk coklat hingga berukuran dibawah 70 mikron partikel.

Bila adonan coklat mengental karena dari biji kakao akan menghasilkan dua produk penting, yakni mentega coklat (cocoa butter) dan serbuk coklat (cocoa powder), maka adonannya disebut chocolate liquor. Dalam proses grinding, terjadi pemisahan fasa karena mengecilnya ukuran partikel kakao.

Partikel ini akan larut dalam lemak nabati alami dari coklat yang disebut mentega coklat tadi. Komposisinya kira-kira adalah 50-60% mentega coklat, 39-48% serbuk coklat, 0.3-0.5% air, dan 0.1-1.5% sisa kulit biji kakao. Disinilah terjadi transformasi dari kakao menjadi coklat. Dan yang terpenting, bahwa yang disebut coklat, ada dua, yakni; mentega coklat, dan serbuk (rasa) coklat.

Dalam white chocolate, yang digunakan hanya mentega coklatnya saja, sedangkan serbuk coklat dihilangkan, sehingga rasa coklatnya pun hilang. Komposisi white chocolate biasanya 35-55% gula, 25-40% mentega coklat, dan 25% produk susu, sementara dark chocolate terdiri dari 35-55% gula, 40-60% serbuk coklat, 20% mentega coklat, dan 0-8% produk susu. Inilah yang disebut white chocolate.

Lalu mengapa coklat eropa seperti Lindt and Sprüngli, Anthon Berg, atau Milka, selalu terasa lebih lezat di mulut dan cepat leleh, sementara coklat Indonesia lebih pahit dan tidak gampang leleh. Kuncinya pada mentega coklat.

Di Eropa dan Amerika, sebuah produk hanya boleh disebut coklat, jika mengandung dua bahan utama coklat; serbuk coklat dan mentega coklat. Berbeda di Indonesia, tidak ada peraturan seperti itu,biarpun warnanya coklat (atau putih), tetap saja namanya coklat. Karena mentega coklat harganya jauh lebih mahal dari serbuk coklat, maka banyak perusahaan mengganti mentega coklat tadi dengan lemak nabati lainnya.

Oleh karena itu, coklat di Indonesia kehilangan mouth feel karena bila digigit gemeletuk seperti kacang. Ini disebabkan kandungan lemak nabati yang digunakan. Karena lemak nabati memiliki titik leleh lebih tinggi dari suhu tubuh manusia, sehingga tidak meleleh dengan sexy seperti mentega coklat aslinya.