Simpanan Deposito Milik BUMN Akan Digeser

Untuk Jangka Panjang

Kamis, 19/01/2012

NERACA

Jakarta----Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah melakukan kajian mendalam terkait pemanfaatan dana khususnya dana-dana BUMN yang disimpan dalam deposito. Hal ini untuk mendukung Bank Indonesia (BI) meningkatkan efisiensi industri perbankan. “Kita bicara pada Presiden, akan ada pergeseran ratusan triliun dari jangka pendek ke jangka panjang perbankan agar lebih murah," kata Menteri Dahlan Iskan kepada wartawan di Jakarta,18/1

Mantan Dirut PT PLN ini menginginkan agar triliun dana BUMN yang ditempatkan di perbankan dipindahkan ke instrumen khusus jangka panjang. Alasanya, bunga bank memang tidak bisa dipaksakan untuk turun, karena sumber dananya sendiri cukup mahal dan sifatnya berjangka pendek yang berasal dari deposito. “Banyak uang yang di BUMN, ratusan triliun ditaruh dalam deposito, itu kan pendek,” terangnya

Menurut mantan Bos Grup Jawa Pos ini, pihaknya juga sudah membicarakan dengan Kementerian Keuangan dan BI guna mencari solusi penggunaan dana BUMN tersebut ke instrumen jangka panjang namun tetap dalam industri perbankan. "Jadi kita cari jalan keluar dengan BI dan Kementerian Keuangan. Apa yang bisa dilakukan apakah dengan instrumen baru atau lain," paparnya

Disisi lain, kata Dahlan lagi, BUMN diminta sensitif atas kondisi yang tengah terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk memuluskan rencananya. "BUMN harus melakukan sounding untuk menyelami suasana kebatinan para partner dan investor yang telah terikat janji dengan BUMN," tuturnya

BUMN, lanjutnya juga harus berperan dalam menghadang dampak negatif dari krisis ekonomi dan politik yang terjadi di negara-negara maju tersebut. "Jika dikaitkan dengan situasi politik yang sedang bergejolak di Eropa dan AS, seharusnya tidak dijadikan masalah karena saat ini ekonomi bisnis dan politik ini sudah terpisah," imbuhnya.

Dikatakan Dahlan, dengan memperhatikan kondisi ekonomi global sekarang ini, Dahlan yakin Indonesia dapat melampaui kinerja Spanyol, yang merupakan salah satu negara Eropa. "Saya sangat yakin dari sektor ekonomi global, Indonesia mampu mengalahkan Spanyol tahun depan," ujarnya.

Ditempat terpisah, Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan suku bunga deposito atau simpanan industri perbankan Indonesia merupakan yang cukup tinggi di ASEAN. "Sumber utama lending rate (bunga kredit) yang tinggi itu bukan pada rate dan overhead cost, walau itu juga menjadi komponen. Yang pertama itu adalah deposit rate (bunga deposito) yang terlalu tinggi di Indonesia," ujarnya

Di kawasan ASEAN sendiri tingkat suku bunga simpanan atau deposito masih lebih tinggi dibanding negara lain seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. "Malaysia dan Thailand itu sudah lebih efisien. Kita bandingkan saja dengan Filipina yang mirip-mirip, deposit rate di sana itu 3%, padahal inflasi 4,5%," terang Darmin.

Ia menambahkan, untuk bunga deposito yang lebih rendah dari inflasi memerlukan instrumen investasi lebih banyak, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, Kementerian Keuangan, BUMN, dan sektor swasta. "Artinya pilihan penempatan dana harus bersaing secara ketat, dan mestinya tidak ada kelembagaan yang mendorong tingkat bunga itu semakin tinggi,” tuturnya.

Efisiensi suku bunga dari dua sisi baik pinjaman dan simpanan diharapkan bisa mendorong efisiensi secara keseluruhan sehingga tercipta keseimbangan harga tercipta pada batas wajar. "Di sektor keuangan sendiri BI sedang mendorong agar efisiensi terjadi, tingkat bunga turun, equilibrium harga ada pada batas wajar. Ini tidak mudah, perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan perlu waktu," pungkasnya. **cahyo