Negara Targetkan Hanya Miliki 120 BUMN

NERACA

Jakarta--Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus melakukan restrukturisasi terhadap sejumlah BUMN, melalu mekanisme holding, merger, dan akuisisi. Sehingga pada 2012, dari 141 BUMN bisa diperkecil menjadi 120 BUMN saja. "Beberapa program restrukturisasi sedang dalam tahap penyelesaian, sehingga sampai akhir tahun jumlah BUMN sekitar 120 perusahaan saja," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan di Jakarta,17/1.

Lebih jauh kata mantan Dirut PLN ini, saat sedang berjalan program restrukturisasi yang sedang berjalan dan berproses antara lain pembentukan holding BUMN Perkebunan yang akan menggabungkan PT Perkebunan (PTPN) I-XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia. Kemudian juga, Merger BUMN yang memproduksi permesinan antara PT Boma Bisma Indra dan PT Barata Indonesia. "Dua BUMN (Boma Bisma Indra dan Barata) memiliki jenis usaha yang sama dan kondisi keduanya dalam status yang hampir serupa sehingga jika digabung akan memberi hasil yang lebih baik," tambahnya

Sedangkan restrukturisasi yang sedang dalam proses penyelesaian adalah akuisisi PT Waskita Karya terhadap PT Istaka Karya. Selain itu Kementerian BUMN saat ini sedang menuntaskan akuisisi pada 7 BUMN yaitu Perum Produksi Film Negara (PFN) yang akan diambil alih PT Adhi Karya Tbk, PT Pradnya Paramita dan PT Balai Pustaka setelah dimerger akan diakuisisi PT Telkom Tbk, PT Energy Management Indonesia (EMI) diambil alih PT Surveyor Indonesia.

Selanjutnya PT Survey Udara Penas diambil alih PT Angkasa Pura I, PT Industri Sandang diambil alih PT Pembangunan Perumahan, dan PT Sarana Karya diambil alih PT Wijaya Karya Tbk. Kementerian BUMN juga tengah menyiapkan pelaksanaan program holding BUMN Kehutanan, BUMN Farmasi, dan BUMN sektor Kertas.

Sebelumnya, Dahlan juga sempat mengungkapkan ada sekitar 15 BUMN rugi yang akan diambil alih oleh BUMN lainnya. Bahkan restrukturisasi BUMN rugi ini pernah ditargetkan rampung pada Desember 2011. Dari total jumlah BUMN sebanyak 141, restrukturisasi sekitar 15 BUMN merugi akan segera diselesaikan. "Sebanyak 15 BUMN rugi dan mengganggu konsentrasi akan kita selesaikan dulu,” paparnya.

Adapun bentuk restrukturisasi sebanyak 15 BUMN rugi tersebut, Dahlan menjelaskan, adalah dengan diambilalih (akuisisi) oleh BUMN sehat yang ingin membentuk anak usaha baru. Menurut dia, cara ini lebih efisien dibanding BUMN harus membentuk anak usaha baru. Selanjutnya, bentuk, nama dan jenis usaha dari BUMN rugi yang diakuisisi menjadi anak usaha baru BUMN ini akan disesuaikan dengan keinginan BUMN yang mengakuisisi.

Disingung mengenai dampak restrukturisasi itu terhadap sumber daya manusia (SDM) di dalamnya, Dahlan optimistis, bisa diatasi masing-masing BUMN yang mengakusisi.

Sementara itu, dari 15 BUMN merugi, sekitar tujuh BUMN sudah mendapat kejelasan akusisi. Ketujuh BUMN tersebut, yakni Perum Produksi Film Negara (PFN) akan diambil alih oleh PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Pradnya Paramita dan PT Balai Pustaka setelah digebungkan (merger) akan diakuisisi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Energy Management Indonesia (EMI) Persero diambil alih PT Surveyor Indonesia. Selanjutnya, PT Survey Udara Penas diambil alih PT Angkasa Pura (AP) I, PT Industri Sandang diambil alih PT PP dan PT Sarana Karya diambil alih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Sementara itu, delapan BUMN rugi lainnya akan menyusul. Disinggung mengenai sisa delapan BUMN yang merugi tersebut, dia mengaku tidak hapal. Namun BUMN yang akan mengakuisisi delapan BUMN merugi tersebut, diantaranya PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) yang ingin memiliki pembangkit listrik dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Ditargetkan restrukturisasi 15 BUMN rugi ini akan rampung pada akhir tahun ini. “Target selesai dalam tiga bulan sejak saya dilantik (19 Oktober 2011),” pungkasnya. **cahyo

Related posts