Inflasi Ditentukan Arah Kebijakan 2012

Senin, 16/01/2012

NERACA

Jakarta---Target Bank Indonesia (BI) pada 2012 terkait pertumbuhan ekonomi sekitar 6,3 %-6,7 % dengan tingkat inflasi antara 4,5 %. Tentu saja target tersebut tergantung dari beberapa kebijakan yang akan berjalan dipertengahan tahun 2012 nanti, memiliki andil dalam mempengaruhi tingkat inflasi. “Ada beberapa poin yang ikut menjadi pertimbangan dalam memprediksi arah inflasi Indonesia. Meski rata-rata inflasi Indonesia diperkirakan mencapai 5,2% pada 2012, atau turun dari 5,4% pada 2011,” kata ekonom DBS Research Group Singapura, Eugene Leow di Jakarta,

Diakui Eugene, tingkat inflasi yang hanya sebesar 5,4% dengan tingkat pertumbuhan produk domestik bruto riil sebesar 6,4% pada 2011 merupakan pencapaian yang baik untuk Indonesia di 2012. “Terlebih lagi, harga barang–barang yang tercermin dari Consumer Price Index di bulan Desember lalu mencapai titik terendahnya dalam 21 bulan terakhir sebesar 3,8 % (year-on-year), menurun tajam dari 7,0% di bulan Januari 2011”, tambahnya

Namun, kata Eugene, perubahan kebijakan terhadap bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif dasar listrik (TDL) yang diprediksi akan terjadi pada April 2012 menyebabkan kenaikan harga barang – barang (Consumer Price Index). Di sisi lain, tren ekonomi Indonesia di awal tahun, di luar faktor perubahan kebijakan tersebut akan tetap stabil. Dalam konteks ini, inflasi diprediksi akan berkisar pada angka 4,5%.

“Inflasi secara garis besar diprediksikan untuk tetap stabil di 2012. Sementara inflasi non-inti diprediksi akan tetap di bawah 4% di tiga bulan pertama 2012, sebelum terjadi perubahan kebijakan terhadap BBM bersubsidi dan tarif dasar listrik yang diperkirakan akan terjadi di bulan April,” terangnya

Lebih jauh kata Eugene, skenario utama pada 2012, yakni kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan pembatasan BBM bersubsidi. Hal ini bias menyebabkan perubahan harga yang ditetapkan oleh pemerintah (administered prices) akan berdampak besar terhadap inflasi tahun ini karena Indonesia berusaha untuk semakin menurunkan pengeluaran subsidinya. “Kami memprediksi kenaikan 10% tarif dasar listrik akan berlaku bulan April (yang akan berdampak langsung kepada kenaikan sebesar 0.4% poin (pct-pt) terhadap harga barang-barang - Consumer Price Index),” ungkapya

Menurut Eugene, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi juga diproyeksikan akan berlaku disaat yang sama. “Kami memprediksi tidak akan ada kenaikan pada harga bahan bakar bersubsidi. Saat ini, pemerintah masih merumuskan rencana untuk menghentikan subsidi BBM bagi kendaraan pribadi (kecuali untuk kendaraan beroda dua dan kendaraan umum) di Jawa dan Bali pada bulan April”, paparnya

Selanjutnya, kata Eugene, pembatasan ini akan diberlakukan secara bertahap di seluruh Indonesia dalam tiga tahun yang akan datang. Harga bahan bakar premium bersubsidi eceran (Gasoline 88) pada saat ini adalah Rp. 4500/liter atau sekitar setengah dari bahan bakar tidak bersubsidi.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), inflasi non-inti dapat meningkat 0,6% hingga 0,9%. Jika kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan pembatasan BBM bersubsidi diimplementasikan pada saat yang bersamaan, inflasi non-inti dapat mencapai level 5,0% di bulan April dan rata-rata 5,2% di sepanjang tahun 2012. “Dengan memperhitungkan rencana anggaran belanja pemerintah di tahun 2012 yang telah menganggarkan subsidi BBM sebesar 40 juta kilo liter (menurun 2,5 juta kilo liter dibandingkan dengan 2011) dan mandat untuk memberlakukan pembatasan subsidi BBM, kami melihat skenario di atas sebagai skenario yang paling mungkin terjadi,”pungkasnya. **maya