BI Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5%

Pada Triwulan I-2012

Jumat, 13/01/2012

NERACA

Jakarta--- Bank Indonesia (BI) tetap optimis prospek ekonomi Indonesia meski perekonomian global mengalami perlambatan. Bahkan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berada 6,5%. Hal ini karena ditopang investasi dan konsumsi yang kuat. “Secara keseluruhan pada 2012, pertumbuhan ekonomi domestik diprakirakan pada kisaran 6,3-6,7 persen dan akan terakselerasi ke kisaran 6,4-6,8 persen pada 2013 seiring membaiknya ekonomi global," kata Gubernur BI, Darmin Nasution kepada wartawan di Jakarta,12/1

Menurut Darmin, pada triwulan I-2012, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 6,5%. Apalagi status investment grade bisa mendorong derasnya investasi di Indonesia. “Peningkatan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade, diharapkan akan semakin memperkuat investasi ke depan," terangnya

Mantan Dirjen Pajak ini menambahkan ekspor akan tetap tumbuh meskipun melambat, sejalan dengan melemahnya ekonomi global. Meski begitu, pihaknya akan terus mewaspadai beberapa faktor risiko terhadap keseimbangan ekonomi makro Indonesia.

Diakui Darmin, perkembangan ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian yang tinggi, terutama terkait dengan berlarut-larutnya penyelesaian krisis di kawasan Eropa. "BI akan terus berupaya untuk mengoptimalkan peran kebijakan moneter dalam mendorong kapasitas perekonomian, menjaga stabilitas pasar keuangan, dan memitigasi dampak perlambatan ekonomi global, dengan senantiasa menjangkar ekspektasi inflasi ke depan ke arah sasarannya," tambahnya

Lebih jauh kata Darmin, ke depan, BI terus memperkuat bauran kebijakan melalui respons kebijakan suku bunga, kebijakan nilai tukar, kebijakan makroprudensial dalam rangka pengelolaan capital flows, kebijakan makroprudensial dalam rangka pengelolaan likuiditas, dan koordinasi kebijakan bersama Pemerintah.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah memperkirakan penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) di 2012 akan mencapai US$ 19,2 miliar atau Rp 172,8 triliun. "Melihat perkembangan 2011 lalu, kita terima FDI lebih dari US$ 18,7 miliar. Pada 2010 itu FDI sekitar US$ 15 miliar, tahun ini dugaan bisa capai US$ 19,1 miliar sampai US$ 19,2 miliar," tegasnya

Halim menambahkan investasi melaliu portofolio saham lanjut Halim selama 2011 mencapai US$ 5,8 miliar. Namun hal ini akan menurun pada tahun 2012 seiring dengan perlambatan perekonomian global akibat berkepanjangannya krisis di Eropa. "Portofolio kita duga sebesar US$ 3,7 miliar, turun karena berbagai faktor situasi global terutama dari risiko, mereka tidak terlalu berani masuk ke negara-negara yang ratingnya bukan AAA, walaupun kita udah investment grade," tandasnya

Sebelumnya, Kepala Bappenas, Armida Alisyahbana mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi di 2012 sebesar 11,5%. Karena itu kemiskinan dan menyediakan lapangan pekerjaan perlu diselesaikan secepatnya. "Dengan target pertumbuhan ekonomi 6,7% tahun ini, maka investasi harus di atas tahun 2011 yang sebesar 8,1% menjadi 11,5% untuk 2012. Hal ini akan berkaitan atau berkorelasi dengan pengentasan kemiskinan dan tersedianya lapangan pekerjaan," katanya

Armida mengatakan investasi ini diharapkan datang dari semua pihak seperti pemerintah, swasta domestik dan asing, BUMN dan masyarakat. "Tantangannya, bayangkan dengan situasi global di mana negara-negara tetangga kita pertumbuhannya terkoreksi ke bawah. Maka kita harapkan investasi datang dari semua pihak baik pemerintah, swasta domestik dan asing, BUMN serta masyarakat kita," ujarnya **cahyo