Indonesia Terancam Bangkrut Bak Eropa - Terlalu Andalkan SUN

NERACA

Jakarta--- Langkah pemerintah membayar utang dengan cara mengandalkan refinancing atau buyback dikritik banyak pihak. Masalahnya, pemerintah telah melakukan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi dolar AS seri RI0142. Alasanya cara ini sangat membahayakan. “Kalau terus menerus seperti ini pemerintah akan kesulitan dalam membayar utang, dan bisa seperti Eropa tapi memang tidak akan dalam waktu dekat," kata Ekonom FEUI, Lana Soelistianingsih kepada wartawan di Jakarta,11/1

Menurut Lana, tindakan pemerintah seperti ini tidak sehat karena kalau terus menerus akan kejadian seperti di Eropa. Meski efek ini baru akan dirasakan dalam jangka panjang. Namun pemerintah diharapkan tak selalu mengggunakan dana lelang SBN. Karena itu semestinya mengubah pola pembayaran utang. "Pemerintah perlu memiliki tabungan khususnya dari penerimaan negara untuk pembayaran utang-utang tersebut," imbuhnya

Sebelumnya, pemerintah mengklaim telah melakukan penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing yang berdenominasi dolar seri RI10142 guna membiayai APBN 2012. Bahkan Dirjen Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, transaksi ini merupakan bagian dari Program Global Medium Term Notes (GMTN) Indonesia sebesar USD15 miliar, sebagaimana telah di-update pada 9 Januari 2012.

"Sesuai kewenangan UU No 24 Tahun 2002 tentang SUN, Menteri Keuangan Menetapkan hasil penjualan SUN dengan Seri RU10142 dengan tenor 30 tahun. Dan nominal yang diterbitkan USD1,75 miliar dengan tingkat kupon 5,25%.. Yield 5,37% dengan price 98,148%," ungkapnya

Rahmat menambahkan, SUN tersebut akan jatuh tempo pada 17 Januari 2042 dan tanggal setelmen alias penerbitan, akan dilakukan pada 17 Januari 2012. Lebih lanjut Rahmat mengatakan, penawaran yang masuk (total order book) adalah sebesar USD3,6 miliar, sehingga terdapat oversubsciption sebesar 2,06 kali.

Ditambahkan Rahmat, SUN tersebut akan jatuh tempo pada 17 Januari 2042 dan tanggal setelmen alias penerbitan, akan dilakukan pada 17 Januari 2012. Lebih lanjut Rahmat mengatakan, penawaran yang masuk (total order book) adalah sebesar USD3,6 miliar, sehingga terdapat oversubsciption sebesar 2,06 kali. "Pendistribusian sebesar 51% dilakukan untuk investor Amerika Serikat, 12 persen untuk Eropa, 37 persen untuk investor Asia termasuk 15 persen untuk investor di Indonesia," tambahnya.

Berdasarkan investor, pengalokasian penawaran yang diterima kepada asset managers adalah sebesar 73 persen bank 20 persen, asuransi dan dana pensiun empat persen, serta private banking tiga persen.

Sekadar informasi, pemerintah menerbitkan SUN dalam valuta asing dengan tenor 30 tahun pada 2008. Penjualan SUN dalam valas dengan tenor banchmark 30 tahun kali ini, memperoleh yield dan kupon terendah sepanjang sepanjang sejarah penerbitan SUN dalam valuta asing dengan tenor 30 tahun oleh pemerintah.

Joint Lead Managers dan Joint Bookrunners dalam transaksi ini adalah HSBC JP Morgan Chase dan Standard Chartered, serta bertindak sebagai co-managers adalah PT Mandiri Sekuritas. "Hasil penjualan SUN seri RI10142 akan digunakan untuk pembiayaan APBN 2012," tambahnya.

Beberapa waktu lalu, Presiden SBY mengaku sangat gembira bahwa realisiasi APBN 2011 lebih baik dari realisasi yang dilakukan pada November. "(Realisasi ini) lebih baik dari koreksi saya pada saat penyerahan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (Dipa) di akhir Desember tahun lalu," jelas dia.

Adapun pendapatan nasional saat ini, telah mencapai 102,5%n dari apa yang ditetapkan dalam APBN-P 2011 dengan jumlah sebesar Rp1.999,5 triliun. "Pembelanjaan kita mencapai 97,6%n atau sama dengan Rp1.289,6 triliun," ujar Presiden lagi. **cahyo

Related posts