Demam Mobnas dan Insentif Fiskal

Selasa, 10/01/2012

Oleh : Agus Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Rencana pemerintah memberikan insentif fiskal bagi pengembangan industri mobil nasional, ternyata bukan hanya menyangkut rasa nasionalisme. Namun, juga seberapa jauh elit politik dan birokrasi mendukung anak bangsa berlomba membuat Mobnas mulai dari Esemka Rajawali, Tawon dan GEA yang diproduksi PT Inka.

Intinya, pemerintah perlu memberikan insentif kepada produsen rintisan mobil nasional. Dengan demikian mendorong keseriusan industri Mobnas dan sekaligus meningkatkan sumber daya nasional. Dampaknya, tentu akan menciptakan lapangan kerja yang lebih tinggi. Terlebih jika permintaan kendaraan ini terus meningkat pesat dari waktu ke waktu.

Dari catatan pasar mobil di dalam negeri sepanjang 2011 membukukan rekor penjualan tertinggi mencapai 893.420 unit (wholesale), tumbuh 16,83% dibandingkan dengan 2010 yang hanya 764.710 unit. Berdasarkan data tentatif dari ATPM anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), rekor sepanjang tahun lalu tercipta karena penjualan pada Desember 2011 yang mencapai 79.921 unit atau tumbuh 18,12% dibandingkan dengan bulan sebelumnya 67.656 unit. Sepanjang tahun lalu, penjualan terbanyak masih dikuasai "pemain besar" seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Suzuki. PT Toyota Astra Motor misalnya, menjual 310.674 unit atau sekitar 34,77% dari total pasar nasional

Tidak hanya itu. Ppara produsen mobil nasional sejatinya dapat diberikan keringanan pajak, seperti pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) serta pembebasan bea masuk atas impor komponen tertentu untuk Mobnas. Selain itu perlu dukungan penyediaan bahan baku produksi, perlu kerjasama dengan BUMN baja dalam pengadaannya.

Yang penting berikan ruang agar pasar mobil nasional ini berkembang. Permintaan terhadap mobil Esemka Rajawali yang sudah mencapai 2.000 unit menunjukkan ada permintaan yang tinggi. Dan tentunya akan mendorong usaha mikro dan kKecil pendukung produksi ini. Prinsipnya, harus ada kebijakan lanjutan yang serius untuk mendorong produksi mobil nasional, karena permintaan pasar domestik sangat besar.

Jadi, Mobnas karya anak SMK selain perlu diapresiasi, juga sekaligus pukulan telak bagi pemerintah. Lihat banyak doktor di pusat ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan prestasi anak-anak SMK yang menggunakan teknologi jauh dari modern dan di daerah pula.

Yang jelas, pasti akan ada resistensi dari produsen mobil besar karena pasar mereka bakal terganggu. Indonesia ini kan pasar terbesar di ASEAN. Pemerintah mau tidak mau harus berpihak kepada karya bangsa ini. DPR mestinya memberikan dukungan dengan kewenangannya dalam APBN. Jangan sampai karya-karya anak-anak SMK tersebut “digagalkan” bangsa sendiri. Coba lihat saja bagaimana nasib Mazda MR90, Holden Lincah, mobil Timor dan juga pembuatan truk oleh PT Texmaco di waktu lalu.