Jangan Peras Laba BUMN

NERACA

Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara menegaskan memang tak seharusnya BUMN menyetor dividen dari hasil keuntungan usahanya kepada negara. Karena BUMN memiliki fungsi yang lebih mulia, yakni penggerak ekonomi dibandingkan hanya sebagai penyetor dividen. "Memang sebaiknya BUMN lebih dimanfaatkan kepentingan pengembangan ekonomi, daripada sumber pendapatan. Kalau jaman dulu mungkin iya," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan kepada wartawan di Jakarta

Menurut mantan Bos Grup Jawa Pos ini, dengan banyaknya BUMN mengembangkan proyek infrastruktur. Maka secara tidak langsung menggerakkan ekonomi. Hasil positif yang bisa didapat, adalah penerimaan pajak tinggi. "Yang swasta tidak bisa mengerjakan, maka BUMN mengerjakan. Bottleneck yang swasta nggak bisa mengerjakan juga,” tambahnya.

Lebih jauh kata mantan wartawan ini, BUMN bisa saja focus kepada proyek-proyek infrastruktur besar. “Kalau infrastruktur dan bottleneck dikerjakan BUMN ekonomi tumbuh. Swasta berkembang. Pajak kan tinggi. Sekarang pajak sudah sangat besar," terangnya.

Namun dirinya menegaskan, sumbangan BUMN ke negara dalam APBN akan disepakati dalam rapat kabinet. "Tidak bisa keinginan BUMN. Itu lintas sektoral karena harus kesepakatan kabinet. Misal Rp 28 triliun dari BUMN dibanding Rp 1.000 triliun pemasukan dari tempat lain, peranannya tidak terlalu banyak," ucap Dahlan.

Sebelumnya, Dahlan sempat mengatakan tak menginginkan BUMN semuanya mencari laba. Sebab BUMN diibaratkan pedang bermata dua. Satu sisi adalah BUMN yang harus mencari laba, tapi satu sisi BUMN adalah alat untuk memajukan ekonomi. "BUMN ini kan kayak pedang bermata dua. Satu sisi dia adalah lembaga korporasi yang harus mencari laba, yang harus menggerakkan ekonomi, tetapi di satu sisi dia punya mata pedang yang lain, yaitu alat negara untuk memajukan ekonomi," paparnya

Namun bukan berarti BUMN boleh rugi, kata Dahlan, intinya BUMN harus maju dan memajukan Negara. “Jadi yang satu sifatnya korporasi yang harus cari keuntungan, yang satu lagi yang harus bisa dijadikan alat oleh negara, pemerintah untuk memajukan ekonomi. Dua ini kan misi yang sangat besar," tambahnya.

Dahlan yang juga merupakan mantan Dirut PLN mengaku ketika memimpin BUMN listrik itu didasari prioritas listrik adalah penggerak ekonomi jadi semua dilakukan untuk mewujudkannya. "Waktu di PLN saya punya kepercayaan pribadi, kalau listrik di Indonesia cukup dan baik, maka ekonomi di Indonesia akan luar biasa. Sehingga kalau saya all out di PLN, itu tidak sekadar all out. Karena listrik adalah penggerak segala-galanya. Karena itu, listrik harus cukup, harus all out," paparnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku lembaga independen yang melakukan…

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…