Surga Pelaku Ekonomi Pasar

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Sosial, Ekonomi dan Industri

Negeri ini benar-benar telah menjadi surga bagi ekonomi pasar dalam arti yang sebenarnya sejak liberalisasi ekonomi dilaksanakan secara terbuka pasca krisis Asia 1998. Pasar modal, pasar uang, pasar barang dan jasa, serta pasar tenaga kerja selalu ramai dengan berbagai transaksi. Mata uang rupiah naik turun dengan bebas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga naik turun suka-suka para pelaku pasar.

Pasokan dan harga bahan makanan pokok juga naik turun, seperti beras, jagung, kedelai, daging, telur, bawang merah/putih dan cabai. Tangan-tangan tak tampak (invisible hand) benar-benar bekerja mengelola ekonomi pasar dan menikmati keuntungan besar.

Sementara itu, ekonomi pasar di ranah politik juga ramai ketika pilkada serentak mulai di gelar tahun ini berlanjut tahun 2018 hingga tahun 2019 bersamaan dengan pilpres. Konon ekonomi pasar pilkada, pileg dan pilpres, nilai transaksi dan kapitalisasi pasarnya juga besar.

Menarik praktik ekonomi pasar di negeri ini, apa saja bisa ditransaksikan, dikapitalisasi, bisa digoreng-goreng atas nama investasi, trading, dan aksi spekulasi seperti yang terjadi di pasar uang dan pasar modal. Di pasar barang dan jasa yang ramai adalah masuknya barang dan jasa impor, baik secara legal maupun ilegal, dan diduga terjadi praktik kartel bahan pangan.

Pemerintah cenderung tak berdaya melakukan intervensi pasar karena energinya terbatas, dan tak punya "instrumen" yang cespleng. Hidup dalam ekonomi pasar, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran rata-rata 5% sejak pasca krisis Asia 1998. Pengeluaran belanja konsumsi masyarakat selalu mendominasi dalam kontribusi per tumbuhan yang tiap tahun rata-rata mencapai 56%.Inilah daya tarik ekonomi Indonesia ketika ekonomi pasar bekerja di negeri ini. Fenomenanya ada lah kemampuan produksi nasional justru "tertekan", apakah barang-barang hasil pertanian serta perkebunan dan perikanan, tambang maupun produk-produk manufaktur.

Ekonomi pasar ramai tapi disisi suplai domestik nya "tertekan". Konon ada masalah disisi input dan proses sehingga mengelola sektor ekonomi produktif menjadi berbiaya tinggi. Deregulasi belum berhasil menciptakan daya saing. Konon tarif impor Indonesia adalah sangat rendah di ASEAN. Rata-rata tertimbangnya adalah 6-7%. Dalam ekonomi pasar yang berbiaya tinggi, kegiatan ekonomi investasi untuk memperbesar kapasitas produksi nasional lebih mengalami tekanan atau tidak menarik minat investor karena ongkosnya mahal dan berisiko, sehingga meraih manfaat ekonomi di negeri ini investor lebih tertarik berdagang atau lebih memilih berbisnis di sektor jasa-jasa.

Dengan demikian pemerintah belum dapat dianggap berhasil menggeser kegiatan ekonomi konsumsi ke ekonomi produktif. Fenomena ekonomi semacam ini memberikan sinyal bahwa likuiditas yang berputar dalam pusaran ekonomi regional dan global ketika mampir ke Indonesia lebih banyak diinvestasikan pada sektor jasa-jasa.

Related posts