Industri Otomotif Nasional Diminta Perluas Pasar Ekspor

Pemerintah meminta industri otomotif di Tanah Air semakin agresif memperluas pasar ekspor untuk membuat sebuah keseimbangan dengan kebutuhan pasar domestik. Oleh karena itu, diperlukan pula peningkatan aktivitas penelitian dan pengembangan produk dalam upaya menguatkan inovasi dan daya saing sekaligus memenuhi selera konsumen global.

“Langkah tersebut diharapkan mampu menambah kontribusi signifikan dari industri otomotif terhadap perekonomian nasional. Kami menargetkan nilai ekspor mobil tahun ini tumbuh sekitar 10 persen,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai menghadiri pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017 di Jakarta, disalin dari siaran pers, pekan lalu.

Tahun 2016, subsektor industri alat angkutan (termasuk di dalamnya industri otomotif) memberikan sumbangan terhadap PDB sektor industri non migas yang mencapai 10,47 persen atau terbesar ketiga setelah subsektor industri makanan dan minuman (32,84 persen) serta subsektor industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik (10,71 persen).

Sementara itu, Menperin menyampaikan, saat ini produksi nasional kendaraan roda empat mencapai 1,1 juta unit per tahun dengan jumlah ekspor sebanyak 200 ribu unit per tahun. “Selain itu, industri otomotif mampu menyerap tenaga sebanyak tiga juta orang di Indonesia. Kami menargetkan total produksi nasional kendaraan roda empat pada tahun 2020 sebesar 2,5 juta unit,” tuturnya.

Airlangga mengungkapkan, salah satu negara yang berpeluang menjadi destinasi baru pasar ekspor bagi industri otomotif nasional saat ini, yaitu Australia. Pasar kendaraan roda empat di Negara Kanguru tersebut mencapai 1,2 juta unit per tahun. “Di sana, beberapa produsen otomotif terpaksa tutup. Ini menjadi kesempatan yang bagus bagi Indonesia untuk masuk ke pasar Australia,” ujarnya.

Menurut Airlangga, kendaraan produksi dalam negeri masih didominasi varian Multi Purpose Vehicle (MPV), Sport Utility Vehicle (SUV) dan Low Cost Green Car (LCGC). Sedangkan, konsumen Australia lebih meminati kendaraan berjenis sedan, kabin ganda atau mobil berpenggerak 4x4. “Makanya, industri otomotif nasional perlu banyak produksi kendaraan sedan yang digemari konsumen luar negeri,” jelasnya.

Mengenai penerapan standar emisi Euro4, Airlangga mengatakan, pelaku industri sudah siap untuk menjalankan aturannya dan Kementerian Perindustrian terus berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Pertamina. “Kami serius mengkaji standar Euro4 ini, selain bermanfaat bagi lingkungan, juga berdampak positif kepada industri. Apalagi sebenarnya di dunia sudah memberlakukan,” ucapnya.

Airlangga menargetkan penerapan Euro4 bisa terlaksana pada tahun 2019. “Harapan itu terpenuhi apabila pembangunan kilang minyak di Cilacap cepat selesai. Bahkan, kami telah bicara dengan Kementerian ESDM yang akan menerapkan Euro5,” imbuhnya.

Di sisi lain, untuk mendukung konsep ramah lingkungan dan memperluas pasar ekspor, Kemenperin juga telah mendorong produsen agar memproduksi kendaraan low carbon emission vehicle (LCEV). “Saat ini masih dalam regulasi. Teknologi yang dikembangkan seperti hybrid dengan electric motor,” jelasnya.

Dalam upaya memacu inovasi tersebut, Menperin mendorong produsen agar dapat membangun pusat penelitian dan pengembangan di dalam negeri sekaligus untuk menghadapi era Industry 4.0. “Karena inovasi merupakan kebutuhan pelaku industri agar dapat berdaya saing memasuki revolusi industri ke-4,” paparnya.

Related posts