Menanti Pilihan Rakyat

Oleh: Ambara Purusottama

School of Business and Economic

Universitas Prasetiya Mulya

Penantian masyarakat Jakarta akan hadirnya seorang pemimpin baru akan segera terjawab setelah melewati kontestasi politik yang begitu melelahkan. Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Jakarta terbilang berbeda dibandingkan dengan pemilihan di daerah lainnya dimana harus melewati dua babak. Pilkada Jakarta memang menghadirkan banyak sekali bumbu penyedap sehingga menarik bagi sebagian kalangan untuk dinanti. Pemimpin yang terpilihnya nantinya diharapkan dapat menyelesaikan menumpuknya masalah ibu kota yang hingga saat ini belum juga terselesaikan.

Kontestasi politik Jakarta sejak awal memberikan daya tarik sendiri untuk disaksikan. Beberapa nama beken ikut ambil bagian dalam kontestasi tersebut, dari akademisi bahkan hingga konglomerat. Melihat sejarah Jakarta dimasa lalu daya tarik menjadi pemimpin Jakarta memang luar biasa besar. Saking hebatnya, pemimpin Jakarta pernah disejajarkan posisinya setara dengan menteri. Bukan tanpa sebab memang, kompleksitas dan besarnya anggaran yang dikelola menjadi alasannya. Bagi sebagian orang menjadi pemimpin ibu kota dapat membuka kran politiknya.

Kontestasi pada tahap eliminasi terasa sangat melelahkan. Pilkada Jakarta awalnya diikuti oleh tiga pasangan calon. Kampanye politik para pasangan calon sungguh membuat rakyat terpana dengan program-program unggulannya. Selain itu, kontestasi tersebut dibumbui dengan berbagai macam bumbu bernuansa SARA sehingga membuat suhu politik cepat panas. Pemerintah pusat bahkan dituntut ikut turun tangan untuk mendinginkan situasi. Saking panasnya, tidak jarang Presiden juga ikut langsung membantu dengan menjalin silaturahmi secara intens dengan pemuka masyarakat.

Hasil dari tahap eliminasi relatif lebih mudah ditebak. Pada tahap ini, perolehan suara dua pasangan calon terasa begitu dominan dibandingkan dengan satu pasangan calon. Menurut data KPU pasangan calon Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni hanya mendapat 17,06% suara. Sisanya, relatif terbagi rata kepada kedua pasangan calon lainnya. Hal lain yang patut dicermati adalah dengan sengitnya kontestasi politik yang ada justru memberikan implikasi positif bagi masyarakat. Jumlah partisipasi pemilih relatif meningkat dibandingkan dengan periode pemilihan sebelumnya.

Kontestasi pilkada putaran kedua relatif lebih sejuk dibandingkan sebelumnya. Belajar dari pengalaman pada tahap eliminasi, kedua pasangan calon yang lolos ke babak berikutnya terlihat lebih dewasa dan kalem. Tidak lagi menunjukkan keberingasan yang dapat kembali mendidihkan suasana. Disaat yang sama masyarakat seakan lelah dengan kontestasi yang menjurus pada tudingan-tudingan yang berbau SARA dan tidak sehat. Masyarakat menginginkan kontestasi yang lebih sehat dengan program-program yang lebih tajam untuk menyelesaikan masalah di Ibu kota.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari bergulirnya kontestasi politik Jakarta. Rentannya sikap masyarakat akan isu-isu yang berbau SARA masih menjadi masalah utama yang harus segera dibereskan. Situasi tersebut menunjukkan belum dewasanya masyarakat dalam berdemokrasi. Selain itu, ketegasan pemerintah pun juga menjadi tugas yang harus dibenahi karena pembiaran-pembiaran organisasi masyarakat yang tidak jelas dimasa lalu. Akhirnya, bangsa ini harus berlapang dada menerima segala hasil sebagai pembelajaran utama dewasa dalam berdemokrasi.

Related posts