Negara Miskin Diberi Bunga Utang 0%

NERACA

Washington – Keberpihakan lembaga keuangan International Monetary Fund (IMF) terhadap negara-negara miskin ditandai dengan mempertahankan suku bunga pinjaman hingga 0% setahun ke depan. Alasanya perpanjangan suku bunga 0% itu dilakukan agar negara miskin siap menghadapi risiko pelemahan ekonomi global. “Suku bunga dijaga tetap rendah dalam pandangan dari risiko pelemahan terhadap proyeksi ekonomi global," pernyataan tertulis IMF

Suku bunga rendah 0% untuk pertama kalinya diterapkan pada tahun 2009 dan otomatis diperpanjang untuk karena tidak hadirnya oposisi terhadap perpanjangan proposal tersebut pada November.

Sekitar 80 dari 187 negara-negara anggota IMF mendapatkan keuntungan dari suku bunga rendah ini, dan baru-baru ini sebanyak 25 negara mendapatkan pinjaman dengan suku bunga rendah ini, dan sebagian besar dari Afrika.

Sebelumnya, Presiden SBY menyatakan ekonomi dunia belum bersahabat tahun depan karena gunjang ganjing krisis utang yang terjadi di Eropa. Apa siasat SBY agar Indonesia selamat dari ancaman krisis tahun depan. "Saudara-saudara agar kita selamat tahun depan, maka mari bersama-sama menjaga sektor riil. Kalau sektor riil terjaga, ekonomi tumbuh dan tidak perlu ada PHK. Di 2008/2009 Alhamdulliah PHK hampir tidak terjadi dibandingkan negara di dunia," kata SBY

SBY mengatakan, krisis di Eropa dan AS tahun depan bakal membuat permintaan ekspor berkurang. Sehingga, kata SBY, anggaran APBN/APBD harus betul-betul digunakan optimal dan tak ada lagi sisa anggaran. Program-program pro rakyat yang anggarannya sudah tersedia juga harus digunakan habis. "Investasi juga menjadi penting jika ekspor terganggu. Karenanya Saya mengajak gubernur dan jajaran pemerintah pusat mari kita berikan peluang investasi, undang dulu investor dalam negeri. Saudara kita investor merah putih, kalau memang kurang kita ajak sahabat kita dari negara-negara sahabat," jelas SBY.

Dalam kesempatan itu, SBY mengaku mendapatkan keluhan dari penggunaan anggaran baik dari peemrintah pusat dan daerah soal adanya regulasi dan prosedur yang menghambat. "Kalau kita tahu ada regulasi yang menghambat jangan dibiarkan. Mari kita duduk bersama untuk ini kasih waktu 3 bulan. Akhir Maret saya tidak mau mendengar ada regulasi yang mengunci disbursement atau penyerapan anggaran," ujar SBY.

Namun, SBY masih tetap optimistis di tangah krisis dunia yang mengancam saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5% atau berarti menembus US$ 800 miliar di tahun ini. Karena itu, penyerapaan anggaran tahun depan harus diperbaiki. Karena ini penting untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi demi peningkatan kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, Perry Warjiyo yang kini menjabat Deputi Gubernur BI,

Sempat mengungkapkan posisi utang swasta Indonesia ke Eropa tergolong rendah hanya sekitar 23% dari total utang luar negeri swasta. Hingga September 2011 total uang luar negeri swasta ke Eropa sebesar US$ 21,5 miliar atau sekitar 23% dari total utang luar negeri swasta sebesar U$ 90,1 miliar.

Dari total US$ 21,5 miliar tersebut, sebagian besar atau sekitar US$ 19,9 miliar merupakan perjanjian pinjaman (loan agreement) sedangkan sisanya sebesar US$ 0,8 miliar merupakan trade financing. **cahyo

Related posts