Prediksi IHSG 2011

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Krisis ekonomi Eropa dan AS memang cukup membuat pusing pemerintah untuk bisa meredam dampak tersebut lebih besar terhadap perekonomian dalam negeri. Kendati pemerintah selalu menyakini, perekonomian dalam negeri masih bagus dan didukung fundamental, tidak membuat serta merta investor bisa nyaman melakukan bisnisnya.

Tengok saja, industri pasar modal lambat tapi pasti pelaku pasar belum bisa leluasa melakukan aksi beli saham lebih banyak lagi. Industri pasar modal menjadi pintu pertama yang rawan terhadap sentimen negatif bursa global. Mungkin karena sudah hukumnya, industri pasar modal saling terkait dengan bursa negara tetangga.

Maka tidak usah heran, bila pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih positif, namun pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap saja tak sinkron, bahkan terkesan hanya lebih melihat perkembangan kondisi internal pasar modal.

Seperti dalam dua hari berturut-turut pekan ini, indeks BEI terpangkas habis dan kondisi ini rupanya dipengaruhi penurunan peringkat negara Uni Eropa. Padahal bila menengok indeks pada kuartal kedua, indeks BEI sempat menembus level 4.050 dan hal ini menjadi keyakinan banyak kalangan analis bila akhir tahun nanti posisi ini bisa bertahan dan bahkan tembus level 5.000.

Namun menjelang akhir tahun, indeks tampaknya kembali terpangkas dan pergerakan indeks selalu berkisar 3.600-3.700. Artinya, fluktuasi pasar modal menjadi khawatiran para pelaku pasar dan termasuk beberapa calon emiten yang berencana mencatatkan saham perdananya di pasar modal.

Sikap berhati-hati dan waspada sangat diperlukan para pelaku pasar modal ketika menghadapi kondisi saat ini yang penuh dengan ketidakpastian akibat krisis global. Apa yang telah dilakukan PT Toba Bara Sejahtera yang menunda IPO yang seharusnya dilakukan akhir tahun ini, merupakan langkah tepat ditunda pada kuartal kedua 2012.

Bagaimanapun juga spekulasi dalam industri pasar modal tidak hanya sekedar tangan kosong tetapi perlu perhitungan yang matang. Kembali kepada target posisi indeks akhir tahun, banyak kalangan meragukan capaian target indeks bisa tembus level 4.000 atau bahkan lebih. Pasalnya, bayangan gelap krisis Eropa masih menghantui dan menjadi pemberat indeks bisa leluasa bergerak. Apapun analisis yang disampaikan pengamat pasar modal bisa saja berbalik arah, karena sesuatu yang tidak mungkin di menit akhir menjadi sesuatu yang dimungkinkan. Hal yang sama juga soal pesimistis direksi BEI bila target jumlah emiten sebanyak 25 perusahaan bisa tercapai.

Toh, menjelang akhir tahun prediksi tersebut nyaris meleset karena tinggal dua emiten lagi yang siap mencatatkan sahamnya di BEI dan bila sudah demikian, maka target tersebut sudah tercapai. Namun bicara teknikal, indeks memiliki peluang bisa bergerak lebih agresif dengan didukung berbagai sentimen positif dari dalam. Sebut saja, soal inflasi yang terkendali, tingkat suku bunga rendah dan daya beli masyarakat yang tinggi seharusnya menjadi amunisi indeks bisa tembus level 4.000 dan keluar dari tekanan sentimen negatif bursa global. Namun sepertinya indeks sulit menembus sesuai target tersebut.

Related posts