Jumlah Penduduk Miskin Masih Tinggi

NERACA

Depok----Jumlah penduduk miskin tampaknya sulit sekali dikurangi. Meski bisa dikurangi, juga tidak significant hasilnya. Malah penduduk muskin ini paling merasakan dampaknya terkait kenaikan kebutuhan bahan pokok. “Kelompok miskin dan hampir miskin masih sangat besar dan mereka sangat rentan akan gejolak kenaikan kebutuhan pokok," katanya belum lama ini,” kata ekonom FEUI, Sri Edi Swasono kepada wartawan di Jakarta,14/12.

Menurut kakak Sri Bintang Pamungkas ini, salah satu akibat membengkaknya kemiskinan ini. Karena adanya disparitas regional antara kawasan barat dan timur yang masih tinggi. “Di mana Sumatera dan Jawa memberikan kontribusi terhadap GDP nasional mencapai 80%,” paparnya.

Lebih jauh kata Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) JB Sumarlin menilai, pembangunan ekonomi pasca reformasi mempunyai kesan cenderung liberal atau neoliberalisme, di mana hanya memperhatikan hal-hal yang besar saja, sedangkan kepentingan rakyat kurang mendapat perhatian. "Ini perlu disikapi dengan benar agar pembangunan lebih mementingkan kepentingan rakyat kecil," ungkap Sumarlin.

Sementara itu, Guru Besar FEUI Aris Ananta mengatakan kesenjangan pertumbuhan ekonomi dan melambannya sektor riil harus mendapat perhatian utama. Menurut dia ini yang menyebabkan mengapa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2011 di Indonesia menjadi turun. "Ini disebabkan oleh tidak adanya instrumen kebijakan yang diarahkan untuk dapat memaksimalkan arus modal yang masuk ke sektor riil, sehingga pertumbuhan sektor tradable jauh dibawah pertumbuhan ekonomi," imbuhnya

Ditempat terpisah, ekonom Bank Dunia Shubham Chaudhuri mengatakan pemberian subsidi BMM ternyata tak mengurangi jumlah penduduk miskin. Oleh karena itu, pemerintah diimbau mengalokasikan dana subsidi BBM untuk kesejahteraan orang miskin. “Subsidi minyak itu membantu menekan harga BBM, tetapi kuncinya bukan itu jika ingin efisien,” terangnya.

Menurut Shubham, saat ini alokasi anggaran pemerintah untuk BBM bersubsidi belum tepat sasaran. “Yang jelas, keuntungan orang miskin berkurang karena subsidi masih banyak digunakan oleh masyarakat mampu," tuturnya

Lebih jauh kata Shubham, saat ini subsidi tersebut masih banyak dinikmati oleh orang-orang yang mampu dan mempunyai mobil pribadi. "Subsidi yang dilakukan pemerintah saat ini hanya berfungsi menekan harga BBM saja, tidak membantu mengentaskan kemiskinan yang ada di Indonesia," tegasnya.

Oleh karena itu, Shubam berharap pemerintah segera mengurangi subsidi tersebut, kemudian dialokasikan kepada pembangunan infrastruktur dan program-program sosial yang membantu mesejahterakan masyarakat miskin. "Alasan utamanya adalah untuk menghemat dana subsidi yang dapat dialokasikan kepada pembangunan infrastruktur sosial atau pengentasan kemiskinan," ucapnya

Shubham menambahkan, dengan pembangunan infrastruktur tersebut secara otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya perubahan alokasi tersebut, maka subsidi dapat berkurang dengan sendirinya. "Karena infrastuktur juga bisa tingkatkan pendapatan pertanian dan kurangi kemiskinan," imbuhnya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan, dari 31,02 juta orang pada Maret 2010, atau sebesar 13,33% dari total penduduk, menjadi 30,02 juta orang pada Maret 2011.

Penurunan tingkat kemiskinan terbesar berada di pedesaan, dari 19,93 juta penduduk (Maret 2010 ) menjadi 18,97 juta penduduk pada Maret tahun ini. Sementara di wilayah kota, jumlah penduduk miskin turun tipis sebesar 0,05 juta penduduk menjadi 11,10 juta penduduk. **cahyo

Related posts