Kenaikan Harga Cabai Akibat Curah Hujan Tinggi - Perdagangan Lokal

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa kenaikan harga komoditas cabai rawit merah diakibatkan curah hujan tinggi, yang menyebabkan komoditas tersebut lebih cepat busuk dan mengurangi pasokan ke pasar konsumen.

Enggartiasto saat ditemui di Kementerian Perdagangan mengatakan bahwa kenaikan harga cabai yang cukup signifikan hanya terjadi pada jenis cabai rawit merah. Sementara untuk jenis cabai merah besar, cabai keriting dan cabai rawit hijau cenderung sudah mengalami penurunan. "Kenaikan tersebut disebabkan satu alasan, yaitu iklim," kata Enggartiasto, di Jakarta, disalin dari Antara.

Dengan kondisi curah hujan tinggi, proses pembusukan dari cabai rawit merah menjadi lebih cepat. Kondisi tersebut menurunkan pasokan komoditas itu ke pasar rakyat, ditambah dengan jalur distribusi yang cukup panjang dari daerah penghasil.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, rata-rata nasional untuk harga cabai merah besar Rp38.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp39.000-Rp40.000 per kilogram dan cabai rawit hijau di bawah Rp50.000 per kilogram. Sementara untuk cabai rawit merah berkisar antara Rp100.000-Rp120.000 per kilogram.

Untuk cabai merah besar, cabai merah keriting dan cabai rawit hijau, berdasarkan pernyataan Kementerian Pertanian, produksi masih mencukupi bahkan surplus. Namun, untuk cabai rawit merah, banyaknya cabai yang busuk dan mengganggu pasokan ke pasar konsumen.

Pemerintah saat ini berupaya untuk memasok cabai rawit merah dari daerah-daerah penghasil, untuk disalurkan ke daerah yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi. Kementerian Perdagangan telah menugaskan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Persero untuk mendistribusikan cabai dari daerah penghasil.

Kenaikan harga komoditas tersebut menggerus daya beli masyarakat yang juga mengalami penurunan. Pasokan kebutuhan komoditas tersebut berkurang sebanyak 50 persen dan menyebabkan daya beli turun hingga 40 persen dari kondisi normal. "Dari daerah yang surplus, kami kirimkan ke daerah yang kekurangan. Tidak ada rencana impor," tutur Enggartiasto.

Tercatat, harga cabai rawit merah di Solo (Jawa Tengah), Tabanan (Bali), Malang (Jawa Timur), dan Palu (Sulawesi Tengah), masih tinggi karena pasokan rendah. Di Pasar Tradisional Kleco Solo, Senin, cabai rawit merah dijual Rp100.000 per kilogram, sedang cabai merah besar harganya Rp30.000 per kilogram dan harga rawit hijau Rp50.000 per kilogram, naik dari sebelumnya antara Rp15.000-Rp20.000 per kilogram.

Sementara di pasar-pasar tradisional di Malang raya, harga cabai rawit yang pekan lalu Rp75.000-Rp80.000 per kilogram sekarang naik menjadi Rp95.000-Rp105.000 per kilogram. Di Tabanan, Bali, harga cabai rawit sebelumnya Rp30.000 per kilogram sekarang naik menjadi Rp 80.000 per kilogram.

Harga cabai rawit yang sebelumnya rata-rata berkisar Rp15.000 per kilogram di Palu, juga naik menjadi Rp80.000 per kilogram.

Pemerhati perempuan dan anak Deisti Novanto meminta masyarakat terutama kaum ibu untuk memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai menyusul tingginya harga cabai beberapa waktu terakhir.

"Masyarakat khususnya kaum ibu tidak usah panik dengan kenaikan harga cabai, yang perlu kita lakukan adalah memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai," ujar Deisti di Jakarta, sebagaimana disalin dari Antara.

Para ibu, lanjut dia, bisa memanfaatkan pekarangan atau bahkan media tanam plastik yang banyak dijual di pasaran. Dengan demikian, nantinya para ibu bisa mandiri memenuhi kebutuhan cabai di rumah tangganya. "Suka atau tidak, cabai merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Rasanya makan belum lahap, jika tidak bertemu sambel," kata dia.

Deisti yang juga Ketua Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) tersebut menambahkan, pihaknya melalui Rumah Pangan Golkar (RPG) juga menyediakan cabai dengan harga yang jauh dari pasaran.

"Sambil mulai menanam cabai di pekarangan, bagi ibu-ibu di sekitar lokasi RPG di Banten, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kota Bogor dapat berbelanja cabai dan komoditas lainnya di RPG, tentunya dengan harga yang murah," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mencanangkan Gerakan Nasional Penanaman 50 Juta Pohon Cabai di Lapangan Tembak Divisi Infantri I Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat, pada November tahun lalu.

Gerakan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menggalakkan masyarakat menanam cabai sehingga saat harga cabai naik tidak perlu ada kekhawatiran. Dalam hal ini, Kementan melibatkan ibu penggerak PKK pusat dan daerah sehingga diharapkan bisa melakukan penanaman 20 batang di setiap rumah tangga.

BERITA TERKAIT

Kemenag Usulkan Kenaikan Ongkos Haji Rp900.670

    NERACA   Jakarta - Kementerian Agama mengusulkan kenaikan ongkos ibadah haji atau biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) sebesar…

Menunggu Harga Pangan Stabil Kembali

Oleh: Subagyo Harga beras medium beberapa pekan ini terus naik di hampir seluruh Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik mencatat sejak…

Stabilisasi Harga Beras Perlu Atasi Kerumitan Distribusi

Oleh: Muhammad Razi Rahman Pada hari kedua Tahun 2018, Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa harga rata-rata beras medium di tingkat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspansi Bisnis - Setelah ASEAN dan Asia Selatan, INKA Mulai Rambah Pasar Afrika

NERACA Jakarta – PT Industri Kereta Api (Persero) mulai merambah pasar di Benua Afrika sebagai ekspansi bisnis setelah memasarkan produk…

Berdasarkan Data KKP - Hingga Oktober 2017, Ekspor Produk Perikanan US$ 3,62 miliar

NERACA Jakarta – Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ekspor produk perikanan Indonesia tercatat sebesar US$ 3,62…

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…