Pertumbuhan Ekonomi Bisa Dibawah 7% - Terkait Krisis Global

NERACA

Jakarta – Gerak dan pertumbuhan ekonomi Indonesia seharusnya bisa mencapai 7%. Namun sayang pertumbuhan itu diperkirakan tak maksimal. Gara-gara factor penggunaan anggaran yang tidak maksimal. Buntutnya pertumbuhan ekonomi menjadi tergerus."Harusnya kita pertumbuhan mendekati 7% itu tergerogoti karena tidak bisa belanja dengan baik. Salah satu alasan aturan berbelit-belit sehingga sulit dicairkan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada wartawan di Jakarta, Selasa (13/12)

Hanya saja, kata Kepala Negara, pihaknya mengaku belum meneliti secara detail, apa saja yang menjadi penghambat pencairan anggaran. “Saya belum lihat satu per satu, kalau itu betul mari kita lihat dan itu harus betulkan regulasinya," tambahnya

Lebih jauh Presiden SBY sangat geram terhadap minimnya penyerapan APBN untuk belanja modal yang biasa dialokasikan untuk infrastruktur. Meskipun masalah-masalahnya sudah diketahui, namun masih belum bisa diatasi. "Memang penyimpangan harus ktia cegah dan korupsi harus kita hindari tapi jangan menghambat semuanya dan tidak mengalir. Dan kedua sedemikian rupa regulasi bisa dijalankan. Bayangkan saudara negara yang PDB-nya US$ 200 miliar cari ekonominya yang tumbuh di atas 5% bisa dihitung jari dan kita di situ," paparnya.

Karena itu dalam kesempatan tersebut, SBY meminta proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dijalankan dengan sungguh-sungguh dan hambatan regulasi juga harus diperbaiki.

SBY mengeluhkan minimnya anggaran belanja infrastruktur di APBN karena habis untuk biaya rutin seperti gaji pegawai dan belanja modal kementerian dan lembaga. "Anggaran untuk belanja modal di APBN kita masih terlalu rendah. Saya berharap dalam APBN-P nanti kalau ada sisa anggaran jangan digunakan yang lain, kecuali untuk belanja modal dan pembangunan infrastruktur. Tahun 2013 dan 2014 saya ingin jauh lebih besar sehingga masuk akal," tandasnya

Ditempat terpisah, ekonom StandChart, Fauzi Ichsan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dari target awal 6,7%-5,8% pada 2012. "Tahun depan diperkirakan pertumbuhan ekonomi turun ke 5,8 persen," ungkapnya

Lebih jauh Fauzi mengatakan penurunan tersebut terjadi karena masih akan adanya dampak krisis Eropa yang akan terus terjadi hingga keputusan bailout untuk negara-negara eropa yang terkena krisis dikeluarkan. "Banyak dampak resesi negara eropa yang akan timbul di Indonesia jika kita tidak mampu menanggulanginya," tegasnya.

Namun, dirinya juga tetap optimis terhadap fundamental perekononomian yang masih sangat kuat di tahun depan sehingga dampak terhadap sektor keuangan masih belum terlihat. "Tetapi tidak menutup kemungkinan jika memang krisis global makin buruk, kita juga akan terkena imbasnya," pungkasnya. **cahyo

Related posts