Jangan Sepelekan Krisis Eropa

Walau kondisi perekonomian nasional saat ini masih baik, ancaman krisis Eropa cepat atau lambat bisa merembet ke benua lain. Indikasi ini terlihat saat pertemuan para kepala negara G-20 belum lama ini, bahwa ada 29 bank global yang dapat menimbulkan dampak sistemik jika mengalami kebangkrutan. Dalam istilah topnya ke-29 bank itu termasuk kategori bank yang too big to fail.

Tidak hanya itu. Saat memberikan pengarahan kepada para gubernur seluruh Indonesia di Semarang baru-baru ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta para pimpinan pusat dan daerah bersinergi membangun perekonomian yang tangguh guna menghadapi imbas krisis Eropa. Diperkirakan, krisis itu akan menghantam dunia seperti saat terjadi di Amerika Serikat 2008 lalu. Menurut Presiden, krisis tersebut bisa mempengaruhi sektor investasi, perdagangan ekspor, dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Sebelumnya Wakil Presiden Boediono pun menilai perekonomian global semakin memburuk. Potensi gangguan dan resesinya pun hampir menyerupai yang terjadi pada tahun 2007-2008, bahkan bisa jadi lebih buruk.

Peringatan Presiden SBY dan Wapres Boediono itu memuat materi yang cukup serius tentang perekonomian global dalam satu tahun terakhir ini. Krisis Eropa juga mendapatkan perhatian serius dari seluruh negara tanpa kecuali. Dana Moneter Internasional (IMF) yang beranggotakan 187 negara dan juga Bank Dunia belum lama berselang membahas krisis ini dengan serius. Eropa sangat cemas menantikan apakah Yunani akan berada dalam situasi gagal bayar, atau lolos. Jika negara itu gagal bayar, maka sebagian bank di Eropa akan mengalami persoalan serius, bahkan bisa kolaps.

Perbankan Eropa yang selama ini membeli surat utang Yunani adalah pihak yang langsung terkena dampaknya. Gagal bayar Yunani bisa langsung membangkrutkan Eropa, dan akan menyeret dunia masuk dalam krisis global. Eropa sedang kelabakan, dan karena itu mereka melirik Asia untuk menambah likuiditas. Terjadi gelombang penjualan aset, dan beberapa negara seperti India dan Korea Selatan tampaknya memanfaatkan momentum ini. Tentu langkah dua negara itu akan diikuti banyak negara Asia lainnya, terutama China dan Taiwan.

Upaya Jerman dan Perancis yang mencoba mengendalikan Euro ternyata menghadapi tantangan dari 17 negara lainnya pengguna mata uang tunggal Euro, yaitu dilema antara “pertumbuhan”versus “penghematan”yang keduanya bersifat mutually exclusive (saling meniadakan). Isi pokok dalam traktak baru zona Euro itu adalah penghematan anggaran dan pembatasan defisit maksimum 3% yang disertai dengan penalti.

Di satu sisi untuk dapat memulihkan kesehatan ekonominya negara-negara penderita krisis utang Eropa harus mampu memacu pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain tekanan dari European Central Bank (ECB) menuntut agar semua negara “pasien” krisis Eropa itu melakukan penghematan fiskal dengan menciutkan anggaran belanja. Dampaknya, rakyat negara-negara tersebut dikorbankan dengan tingginya beban pajak yang menyakitkan dan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan industri dan pegawai negeri. Pada gilirannya tindakan ini berpotensi merebaknya aksi protes dan kerusuhan sosial di seluruh kawasan, seperti fakta yang terjadi di Yunani.

Meski demikian, krisis Eropa belum sampai ke tahapan menghancurkan dunia. Ada sisi keuntungan yang mungkin bisa diraih Indonesia, dan negara-negara Asia lainnya. Jika Eropa dan Amerika Serikat masuk ke tahapan krisis, maka uang pastilah tidak akan mengalir ke sana. Aliran dana asing akan selalu mengikuti kegiatan, dan ketika di sana tidak ada lagi prospek maka investasi akan mengalir ke Asia. Kenapa harus menaruh investasi di lokasi krisis, jika masih ada tempat lain di dunia yang lebih prospektif, dan menggairahkan?

Related posts