Transformasi BUMN Bisa “Menjebak

NERACA

Jakarta--- Langkah transformasi perusahaan-perusahaan milik negara di lingkungan BUMN merupakan gagasan yang baik. Namun bisa saja hal itu justru menjebak kepentingan negara. "Transformasi BUMN yang terlalu cepat justru akan menjebak kita," kata Deputi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bidang Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin di Jakarta,8/12

Sumaryanto menambahkan meski gagasan-gagasan tentang transformasi BUMN hal sangat baik di era sekarang, namun sudah ada beberapa contoh di mana kesertaan kalangan swasta dalam proyek-proyek strategis berskala besar justru malah "mangkrak" (tidak berjalan). Dengan demikian, tetap saja peran negara harus tetap besar guna melanjutkannya.

Menurut Sumaryanto, sejumlah contoh proyek yang tidak mengalami kemajuan karena investor-investornya akhirnya ragu-ragu untuk terus melanjutkan. Proyek-proyek itu, KA Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Jalan Tol Persimpangan Benoa-Nusa Dua di Bali, Pelabuhan Peti Kemas di Kalibaru, Jakarta Utara.

Di sektor jalan tol, kini ada 24 proyek jalan tol yang pengerjaannya tidak bergerak, hal yang seharusnya bisa diatasi jika PT Jasa Marga bisa memperoleh hak khusus sebagai pembangun utama karena akan mudah memperoleh kepercayaan sumber-sumber pendanaan mengingat pengalaman selama ini serta memang memiliki sendiri jalan-jalan tol

Ia memberi contoh, proyek jalan KA Bandara Soekarno-Hatta ke Jakarta, misalnya, yang sudah tujuh tahun direncanakan dan terhenti. Semula, proyek itu memerlukan investasi Rp8 triliun, namun dengan sinergi BUMN bisa jalan dengan investasi kurang dari Rp2 triliun. "Semula (perhitungan tiket yang harus dibayarkan pengguna jasanya) Rp80.000-Rp90.000, namun sekarang tiket bisa Rp25.000," imbuhnya. **cahyo

Related posts