SBY Minta Pejabat Jangan Lengah Soal Krisis

NERACA

Jakarta--- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta agar pejabat jangan lengah terhadap krisis global yang bisa berpengaruh ke Indonesia. Karena itu perlu diwaspadai secara cermat agar Indonesia jangan menjadi korban. "Dunia sering aneh dan tidak adil, seperti 2008-2009 ekonomi kita ikut terguncang padahal sumber di Amerika Serikat (AS). Sekarang sumber di Eropa, krisis bisa datang dan kalau kita tidak lakukan sesuatu, kita bisa jadi korban," katanya di Jakarta,6/12

Lebih jauh Kepala Negara mengimbau masyarakat melihat situasi politik dan keamanan di belahan dunia lain di Timur Tengah. “Faktor lain bagaimanapun negara produsen minyak ingin dapat keuntungan sebesar-besarnya, mereka senang harga minyak tinggi. Di era ini, negara sering kalah dengan perusahaan multinasional, ini kelemahan sistem kapitalis global. "Ada lima negara konsumsi besar, AS, China, Jepang, India, Rusia. Dengan situasi seperti ini akan jadi masalah kalau gagal atasinya. Diam-diam di kita keperluan minyak listrik dan sumber energi meningkat, sumber kita dulu lebih dari satu juta barel sementara kebutuhan energi minyak terus meningkat," tambahnya

Presiden menegaskan harga minyak sekarang ini USD100 per barel, puncaknya 2008 lalu USD145 per barel. Tetapi saat ini krisis ekonomi global datang lagi diawali dengan krisis keruangan global di Eropa. "Anehnya harga minyak terus tetap. Banyak faktor, ada ulah spekulan, sebagian dari trader adalah pedagang minyak global, ada sentimen geopolitik, situasi yang panas di Iran dan Afrika Utara, turut membuat ketidakpastian harga minyak. Iran mengancam kalau terus dikasih embargo apalagi tidak boleh menjual minyak akan mencapai USD200 per barel," paparnya

Oleh karena itu, lanjut Presiden, dalam menghadapi kompleksitas masalah di tingkat global, Indonesia harus aktif ikut mengatasi masalah tersebut bila tidak ingin menjadi pihak yang rugi dan terkena imbasnya. "Apa yang jadi isu dan masalah pangan dan energi dewasa ini, yang terjadi di Afrika, sejumlah negara mengalami kekeringan, hama, dan aspek lain dari perubahan iklim yang ternyata mengganggu pola pertanian," ungkapnya

Menurut Presiden, krisis ekonomi di Eropa dan ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia merupakan peringatan bagi kalangan di dalam negeri untuk bisa mengantisipasi agar dampaknya tidak terlalu mengguncang perekonomian dan sektor kehidupan nasional. "Kita di Indonesia harus berbuat sesuatu yang aktif dan nyata, sudah tahu masalahnya seperti ini lantas kita pasif, tentu kita keliru dan merugi sendiri," pungkasnya. **cahyo

Related posts