A&W Peduli Gizi Anak-Anak NTT

Neraca. Kepedulian para pengusaha dan perusahaan-perusahaan kepada masa depan anak-anak usia sekolah dasar merupakan suatu bentuk perhatian khusus. Dalam hal ini A&W bekerjasama dengan World Food Program yang diluncurkan di Jakarta untuk menarik para donator ikut dalam acara amal yang sedianya dialokasikan untuk anak-anak NTT/Kupang pertengahan tahun 2011 ini.

Melihat lahan di kawasan NTT/Kupang merupakan lahan yang tidak terlalu subur karena curah hujan yang turun hanya sesekali. Menjadikan kawasan NTT menjadi kawasan yang kering dan tandus, sehingga lahan subur sangat jarang. Untuk mengatasi kesuburan tanah yang sangat minim maka para petani dan pemerintah daerah setempat berupaya untuk mencari solusi penanaman hasil pertanian apa yang tepat. Hasilnya, ubi singkong, umbi ketela, dan berbagai tanaman yang dapat tumbuh pada tanah yang memerlukan sedikit air.

Selain itu, A&W melakukan peduli gizi pada anak-anak usia sekolah dasar bersama WFP di NTT/Kupang karena melihat tingkat perekonomian, dan kesuburan tanah serta mata pencarian ekonomi masyrakat setempat masih rendah. Tentunya ini, menjadi perhatian khusus melihat tingkat pendidikan di kawasan itu masih terbilang rendah. Rendahnya mutu pendidikan karena gizi yang diterima oleh anak-anak di daerah itu masih kurang dari kecukupan gizi seimbang.

“Peningkatan kualitas pendidikan mulai terasa pada tahun 2011 ini karena mengalami kenaikan. Hal itu dapat dilihat dari prosentase jumlah kelulusan anak sekolah dari tahun 201i ini mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya,” menurut Pemda setempat.

Selain itu, pemenuhan akan gizi bagi anaka-anak NTT usia sekolah dasar terbilang masih kurang dari gizi seimbang. Hal itu dilihat berdasarkan pendapatan rata-rata masyarakat/orang tua mereka untuk mencukupi bahan makanan yang bergizi dan berkualitas masih minim, sehingga mereka hanya menyediakan ubi singkong, tiwul dan semacamnya untuk makan anak-anak mereka. Inilah yang membuat tingkat gizi anak-anak mengalami kekurangan gizi dan rentan terhadap kasus busung lapar. Banyak kasus busung lapar terjadi melanda Indonesia bagian timur, karena banyak penduduk/masyarakatnya mengalami gagal panen dan tidak mempunyai biaya dalam menghidupi kebutuhan sehari-harinya.

Daya beli masyarakat sangat minim karena pendapatan ekonomi daerahnya masih rendah, sehingga masyarakatnya belum mencapai kesejahteraan pangan dan gizi. Pangan dan gizi merupakan hak masyarakat yang harus dipenuhi guna melaksanakan segala aktifitas dan kegiatan. Baik aktifitas belajar mengajar, kerja dan olahraga semuanya membutuhkan pangan dan gizi yang sehat serta seimbang. Untuk mendapatkan prestasi yang terbaik dalam pelajaran, anak tentunya memerlukan gizi sehat dan seimbang sehingga otak dan pikirannya dapat bekerja dengan optimal. Bila otak bekerja secara optimal maka segala sesuatu dalam pelajaran mudah diserap,difahami dan mampu dikuasai dengan baik. Hasilnya, otak dan pikiran memiliki daya tangkap yang cepat sehingga dapat menelorkan ide-ide/gagasan dan konsep yang brilian.

Kemampuan itu, hanya bisa dicapai selain dengan kesungguhan juga dengan mencukupi segala kebutuhan gizi pada anak-anak tersebut. Bila dilihat pada anak-anak di daerah NTT ini, masih banyak sekali kejadian busung lapar akibat kekurangan gizi. Maka hal ini pula yang melatar belakangi A&W bersama WFP mengadakan program peningkatan gizi kepada anak-anak usia sekolah dasar. “A&W telah melakukan hal ini beberapa tahun lalu, dengan menyisihkan beberapa persen dari tiap produk penjualannnya untuk disumbangkan kepada anak-anak usia sekolah dasar di NTT, menurut manager A&W Indonesia.

Selain itu, WFP yang merupakan badan dunia tenang pangan sangat tertarik dengan program yang dilakukan oleh A&W, yaitu peningkatan gizi kepada anak-anak usia sekolah dasar di daerah NTT. Badan dunia yang sangat konsen terhadap pangan sangat mendukung peningkatan gizi terhadap anak-anak usia sekolah dasar di NTT dengan memberikan bantuan keuangan dan pangan. “WFP untuk membantu meningkatkan kualitas gizi pada anak-anak usia sekolah dasar membuat biscuit yang memiliki gizi tinggi sehingga dapat memenuhi kecukupan gizi tiap harinya,” menurut Peter Guest, dari WFP.

Biskuit ini, dibuat secara khusus yang memiliki kandungan yang gizi sangat tinggi sehingga anak-anak yang mengkonsumsinya meningkat daya serap pada otaknya. Daya serap otak akan sangat baik dan optimal bila asupan gizi yang masuk kedalam tubuh dan otak dapat terpenuhi dengan baik dan cukup. Bila gizi dapat terpenuhi dan seimbang maka otak anak-anak dapat dipakai dengan baik dan mampau bersaing menjadi yang terbaik diantara yag lainnya.

Related posts