Utang RI Dinilai Masih Sebanding PDB

Jakarta--- Rasio utang Indonesia diperkirakan terus mengalami kenaikan. Namun peningkatannya dinilai masih sebanding dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). "Gaya hidup ini menandakan walaupun rasio utang terhadap APBN meningkat sedikit,tapi GDP per kapita kita juga terus meningkat. Maka dari itu tidak usah khawatir," kata Direktur Utama PT Sarinah (persero) Jimmy Gani di Jakarta,4/12.

Lebih jauh Jimmy mengakui kesempatan peluang bisnis di Indonesia terbuka dengan semakin banyak keberadaan pasar modern dibandingkan pasar tradisional. Ini mencerminkan gaya hidup masyarakat pun meningkat.

Jimmy menambahkan meningkatnya gaya hidup masyarakat, maka masyarakat kelas menengah juga turut bertambah. Otomatis, gaya hidup masyarakat pun berubah. "Disinilah terbuka banyak peluang bisnis, khususnya dalam industri kreatif. Jadi, saya kira posisi Hipmi sekarang sangat strategis," tambahnya.

Namun, Jimmy mengingatkan, walaupun kesempatan banyak terbuka, pemerintah harus tetap waspada terhadap kondisi perekonomian global khususnya perekonomian Amerika Serikat (AS) dan Eropa. "Tapi jika domestik kita cukup besar pasarnya, maka seharusnya dampak krisis global tersebut tidak akan terlalu terasa di Indonesia,"imbuhnya

Ditempat terpisah, Deputi Direktur Surat Utang Negara Kementrian Keuangan, Loto S. Ginting mengataka sampai pada tahun depan, pemerintah tidak akan melakukan penjualan SUN (Surat Utang Negara). Alasanya pemerintah masih mempunyai sisa dana kas pemerintah.”Kami telah membatalan lelang surat utang pada 6 Desember mendatang, karena kas pemerintah dikatagorikan masih aman, jadi kami tidak perlu melakukan penjualan SUN,” tegasnya

Menurut Loto, diperkirakan defisit anggaran 2011 lebih rendah dari target pemerintah 2,1%. Sehingga pemerintah tidak perlu menambah penjualan surat utang sampai akhir tahun.”SUN valas yang akan diterbitkan tahun depan menyasar kepada para pemodal di dalam negeri, karena akan dicatatkan di bursa lokal,” tambahnya.

Hingga saat ini, target SUN valas makimamal mencapai 18% dari total penerbitan SUN di 2012, atau USD 4 miliar. Secara total penerbitan SUN di 2012 dipatok Rp 198,1 triliun. Dari jumlah trsebut, target SUN valas yang melingkupi global bond mencapai Rp 35,65 triliun atau setara dengan USD 4 miliar. ”Jumlah tersebut bukan hanya SUN valas yang terbit di bursa lokal. Tapi juga tercatat di bursa luar negeri,” tambah Loto.

Berkaitan dengan target nilai dan waktu penerbitan SUN valas, Loto menambahkan akan disesuaikan dengan kondisi pasar. SUN valas domestik berdenominasi dollar AS yang akan terbit bertenor 10 tahun. Pasalnya, saat ini global bond yang likuid berjangka waktu 10 tahun.

Berdasarkan catatan, Ditjen Pengelolaan Utang Kementrian Keuangan, rata-rata yield global bond indonesia bertenor 10 tahun adalah 4,41%. Loto menuturkan, jika ada permintaan SUN valas bertenor 30 tahun, pemerintah tetap mempertimbangkannya. "Jika permintaannya banyak dan harganya menarik, kenapa tidak," kata dia. Hingga Rabu (30/11) lalu, total outstanding SUN valas yang diterbitkan pemerintah mencapai Rp 182,65 triliun. Jumlah itu meliputi global bond senilai Rp 171,47 triliun setara USD18,7 miliar dan samurai bond senilai Rp 11,18 triliun setara ¥ 95 miliar.

Sebelumnya, Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto menjelaskan hingga saat ini pemerintah menerbitkan SUN senilai Rp 204,5 triliun. "Target penerbitan gross SBN (surat berharga negara) Rp 211 triliun. Kemarin dibatalkan lelang Rp 6,5 triliun. Jadi realisasi penerbitan sekitar Rp 204,5 triliun," jelas Rahmat. **bari/cahyo

Related posts