Awas, Utang Menjerat Negara

Persoalan utang sekarang makin sorotan serius sejumlah negara di dunia. Tidak hanya negara miskin dan menengah tetapi juga kelompok negara maju. Utang pemerintah Indonesia misalnya, hingga Oktober 2011 tercatat Rp 1.768,04 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang itu juga naik dari 27,3% pada Sept. menjadi 27,5% . Masalah utang juga membelit jutaan warga negeri ini dari petani miskin, pegawai negeri, karyawan swasta hingga ibu rumah tangga.

Di kawasan lain, utang sejumlah negara Eropa kini disebut makin menakutkan. Krisis yang meledak di Yunani itu sekarang menjalar ke Spanyol dan Perancis. Pekan lalu, dua negara itu harus membayar suku bunga lebih tinggi saat menjual obligasi pemerintah untuk membiayai APBN-nya.

Pemerintah Spanyol, negara ke-4 terbesar di Eropa, menjual hampir US$5 miliar obligasi pemerintah dengan suku bunga 7%. Tingkat suku bunga yang sama juga dialami obligasi Yunani, Irlandia, dan Portugal yang akhirnya memaksa ketiga negara tersebut meminta dana talangan dari IMF.

Berikutnya, obligasi pemerintah Perancis terjual dengan suku bunga lebih dari dua kali lipat suku bunga yang dibayar Jerman, walau dua negara itu mempunyai peringkat kelayakan kredit tertinggi yang sama, yaitu Triple A.

Negara adidaya Amerika Serikat juga terjerat utang, yang besarnya tak kurang dari US$14 triliun. Ini yang membuat Presiden Barack Obama meluncurkan program penghematan besar-besaran namun dampaknya masih belum dapat diketahui cepat. Diperkirakan akhir tahun ini utang AS mencapai US$15 triliun. Padahal, PDB tahun 2010 hanya US$14,7 triliun dan 2011 sebesar US$15, 01 triliun. Artinya, rasio utang dengan PDB sudah menyentuh angka 97%. Padahal saat krisis global 2008, rasio utang dengan PDB AS baru 69%.

Hal ini menggambarkan setiap US$1 uang yang diperoleh seorang warga AS, US$95 sen diantaranya digunakan untuk membayar utang. Akibatnya, jumlah kebangkrutan keluarga akibat utang juga terus melonjak. Utang kartu kredit para mahasiswa juga terus menumpuk. Untuk kali pertama, utang mahasiswa AS yang diambil tahun 2010 saja tercacat US$100 miliar. Secara kumulatif utang mahasiswa seluruhnya tahun ini bisa mencapai US$1 triliun, ini untuk kali pertama dalam sejarah pendidikan di Amerika.

Utang memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak zaman dulu, tak terhitung cerita yang mengisahkan keterpurukan orang atau bangsa akibat terbelit utang. Berbagai agama juga melarang kegiatan utang yang melibatkan bunga alias riba, tetapi larangan itu seolah tidak ada artinya.

Larangan riba dalam Islam juga amat jelas. Alquran 3:130 mengingatkan, ”Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” Ayat itu hanyalah satu di antara berbagai ayat yang menunjukkan larangan riba dan sejenisnya.

Begitu juga kaum Nasrani, misalnya dalam Injil Perjanjian Lama secara tegas melarang pemungutan riba seperti disebutkan dalam Nehemiah 5:11. Meski larangan dalam agama jelas, semua bangsa dan kelompok masyarakat tampaknya tak bisa terpisahkan dari kegiatan utang-piutang, dan tentu saja melibatkan beban bunga yang tidak kecil.

Kita menyadari dalam dunia modern disebutkan, bunga bank dianggap bukan riba seperti dalam konsep klasik karena utangnya terkait dengan aktivitas bisnis, bukan konsumtif. Namun terlepas bunga itu riba atau bukan, kisah pilu kesengsaraan manusia atau bangsa akibat jeratan utang terus bermunculan. Jadi pola pikir bahwa utang membiayai pembangunan harus secara gradual dihilangkan. Karena utang banyak mudharatnya ketimbang manfaat bagi kepentingan negara maupun perorangan.

BERITA TERKAIT

Setujui Restrukturisasi Utang - Bank Mandiri Siap Selamatkan Kratau Steel

NERACA Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) siap melakukan restrukturisasi atas utang PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Hal…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Rasio Utang Terhadap PDB Dinilai Aman

    NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai rasio utang Indonesia terhadap produk…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Meningkatkan Produktivitas Kota Melalui TOD

  Oleh : Untung Juanto ST. MM, Pemerhati Produktivitas SDM Presiden Joko Widodo di dampingi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies…

Bersikap Move On dan Tetap Rukun Pasca Pemilu

  Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial Masyarakat terutama pendukung dan tim kampanye diharapkan dapat kembali bangkit membangun kebersamaan…

Plus Minus Super Holding BUMN

Oleh: Djony Edward Calon presiden Jokowi pada debat kelima mengungkapkan rencananya untuk membentuk super hodling Badan Usaha Milik Negara (BUMN).…