Prestasi dan Biaya Mahal

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Indonesia baru-baru ini merayakan kemenangan sebagai juara umum dalam pelaksanaan olah raga negara-negara Asia Tenggara atau lebih dikenal SEA Games ke-26 di Palembang dan Jakarta. Sebagai tuan rumah, Indonesia cukup membanggakan bisa memborong 182 medali emas, 151 medali perak, dan 142 medali perunggu. Prestasi ini mengejutkan, karena setelah hampir 14 tahun tak pernah menjadi juara umum. Untung saja sebagai tuan rumah, Indonesia juga terbilang sukses kendati sehari sebelum pelaksanaan SEA Games masih banyak pekerjaan infrastruktur yang belum rampung, maka tidak heran banyak kalangan menilai ragu Indonesia siap menjadi tuan rumah.

Terlepas dari persoalan di atas, perjuangan para atlet Indonesia perlu diapresiasi tinggi dan bahkan kemenangan Indonesia menjadi juara umum SEA Games kemarin menjadi tonggak sejarah kebangkitan industri olah raga nasional, dan membuktikan pada dunia bahwa Indonesia memiliki atlet-atlet yang berbakat. Membina dan menciptakan atlet berbakat menjadi perhatian pemerintah saat ini, karena sejak kejayaan Indonesia di dunia olah raga pada tahun 1997, bangsa ini minim akan prestasi.

Kendati demikian Indonesia masih membuktikan kepada dunia, sekalipun prestasi di bidang olah raga minim tetapi masih memiliki prestasi bidang pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan prestasi anak bangsa ini yang menjadi juara pada kompetisi fisika, kimia dan matematika di dunia internasional. Perlu diakui, memupuk kader bangsa yang berkualitas dan berprestasi perlu proses panjang dan regenerasi. Maka sadar akan minim prestasi di bidang olah raga, pemerintah mulai sibuk membina dan melatih kader prestasi.

Bahkan untuk memicu lebih banyak lagi kader berprestasi, pemerintah menjanjikan beasiswa dan bonus, sebagaimana yang dijanjikan kepada para atlet SEA Games kemarin yang berprestasi. Dimana untuk hal ini pemerintah sangat memperhatikan dengan berbagai tunjangan, bonus, beasiswa. Tentunya hal ini guna membangkitkan atlet dan menciptakan masa depan atlet yang berprospek. Sehingga tidak ada lagi kesan, sang juara hanya manis diawal tetapi diacuhkan negara ketika turun dari arena atau memasuki masa purnabakti.

Ironisnya, di tengah keseriusan pemerintah memberikan nilai apresiasi yang besar terhadap atlet yang berprestasi tidak sejalan dengan apresiasi yang diberikan terhadap penegakan hukum. Karena bagaimanapun juga prestasi yang besar meraih segudang emas di arena SEA Games belum bisa dikatakan membanggakan, jika pemerintah belum mampu memerangi tingkat korupsi dan menegakan hukum seadil-adilnya. Tengok saja, bagaimana seorang jaksa masih menerima suap hingga soal percabulan. Rupanya, lembaga penegak hukum di negeri ini sudah kabur mana yang benar dan salah hampir semuanya tidak bisa dikenali karena melakukan tindakan yang sama.

Oleh karena itu, sudah saatnya prestasi yang diraih bangsa ini tidak jomplang antara penegakan hukum dan olah raga, karena apalah artinya prestasi besar bila harus dibayar mahal dengan minim prestasi di bidang penegakan hukum yang menjadi ekspektasi besar rakyat Indonesia.

BERITA TERKAIT

Penertiban Jalur Angkot dan PKL di Stasiun Bekasi

Penertiban jalur Angkot yang wajib belok kiri masuk Jl. Pusdiklat KA harusnya diberlakukan sejak Pk. 06.00 hingga Pk. 22.00 setiap…

KPPU Teliti Dugaan Kartel Harga Tiket Pesawat dan Kargo

KPPU Teliti Dugaan Kartel Harga Tiket Pesawat dan Kargo NERACA Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memulai penelitian terkait…

Tantangan PWI Zaman Now di Tengah Arus Idealistis dan Realistis

Tantangan PWI Zaman Now di Tengah Arus Idealistis dan Realistis NERACA Jakarta - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, menggelar Rapat…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pembebasan ABB Sah-sah Saja, Jangan Dipolitisasi

  Oleh : Ananda Rasti, Pengamat Masalah Sosial Politik   Akhir–akhir ini beredar berita bahwa Abu Bakar Ba’asyir (ABB) akan…

Prospek Industri Pelayaran Nasional di 2019

Oleh: Ahmad Wijaya Memasuki tahun 2019 industri pelayaran diharapkan bisa menopang pertumbuhan ekonomi nasional dengan cara mengangkut dan mendistibusikan berbagai…

Infrastruktur Jangan Jadi "Penghisap Darah"

Oleh: Sarwani Presiden Joko Wdodo langsung tancap gas membangun infrastruktur sejak tahun pertama pemerintahannya. Sejumlah proyek yang mangkrak seperti jalan…