Melawan Mitos Masyarakat

Sabtu, 22/10/2011

NERACA. Menggugah hidup sehat dan bersih bukan perkara mudah, terlebih bila pemahaman dan mitos yang diyakini sebuah lingkungan masyarakat sudah demikian mengental. Inilah tantangan yang dilakukan PT Unilever Indonesia, melalui brand produknya sabun Lifebouy.

Dalam Journalist Class dengan dipandu Wimar Witoelar dan Sophie Navita, dalam menyambut empat tahun perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia di area Parkir Timur Senayan (15/10) lalu, terungkap beberapa mitos dan pemahaman yang salah seputar kesehatan melalui Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Bersama peneliti asal Inggris, Katie Greenland dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Yunita Wahyuningrum seorang peneliti Komunikasi Kesehatan dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Center for Communication Program-Jakarta dan Senior Brand Manager Lifebuoy PT Unilever Indonesia Tbk Amalia Sarah Santi, pembahasan pelaksanaan hari CTPS dan pemahaman masyarakat akan kesehatan CTPS berjalan sangat menarik.

Salah seorang pembahas, Katie Greenland menuturkan bahwa ada empat jalur pembawa virus kotoran dari makanan ke mulut manusia, yaitu dari air, tanah atau lahan, lalat dan jari tangan kita. Meski CTPS adalah penanganan cara sehat yang paling murah bagi anggaran negara namun jumlah kematian usia balita di Indonesia sekitar 151 ribu per tahun, dan 56 ribu diantaranya adalah karena diare dan pneumonia. “Padahal kebiasaan CTPS dapat mencegah diare hingga 47%,” ungkap Katie.

Namun tingkat pengetahuan murid sekolah dasar pada CTPS sudah lebih baik, harapan itu diutarakan Yunita Wahyuningrum, dikatakan bila akses untuk mencuci tangan masih sedikit jumlahnya. Dan ternyata, kaum lelaki malah lebih susah mengikuti anjuran CTPS, “Rata-rata mereka bahkan menganggap tanpa CTPS tidak bakal mati,” tambahnya.

Hal ini berdasarkan penelitian praktik CTPS di Kabupaten Serang dan Tangerang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Lombok Barat, yang lebih sering dilakukan anak dan kaum ibu. Alasan? orang menghindari CTPS terutama lantaran malas, lupa dan merasa direpotkan.

Mitos dan keyakinan yang telah mentradisi di sejumlah wilayah, juga dinilai Yunita menghambat perubahan perilaku masyarakat untuk membiasakan diri CTPS. Seperti misalnya keyakinan penyebab diare karena mengkonsumsi makanan pedas ataupun asam, adanya perubahan cuaca, dan dianggap kehendak Tuhan serta sebagai pertanda tubuh si anak tengah berproses menjadi tinggi.

Pelaksanaan CTPS oleh sebagian besar penduduk cenderung hanya karena faktor emosional, antara lain agar tangan tampak bersih, rasa nyaman dan percaya diri, dan bukan didasarkan pada manfaat kesehatan.

Begitupun pada perilaku buang air besar (BAB), yang masih mempertahankan cara lama dengan alasan faktor ekonomi, kenyamanan, biaya penyediaan kloset yang mahal, alasan untuk mudah bersosialisasi dan keterbatasan lahan. “Masih banyak individu penduduk yang menganggap BAB yang tepat adalah di atas air yang mengalir (sungai). Supaya kotoran gampang terhanyut ke tempat lain,” gurau Yuni.

Untuk menumbuhkan kebiasaan CTPS, maka Lifebuoy menggelar program lima cara sehat, yakni CTPS sebelum makan pagi; CTPS sebelum makan siang; CTPS sebelum makan malam, CTPS setelah dari WC, dan mandi menggunakan sabun.