Kondisi Ekonomi Global Terus Memburuk

NERACA

Jakarta---Pemerintah mengakui kondisi perekonomian global makin buruk dalam beberapa minggu ini terus memburuk disbanding 3 pekan lalu. Bahkan beberapa lembaga keuangan dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia turun 4,4% menjadi 4%. "Kondisi sekarang ini lebih buruk dibandingkan 3 minggu lalu," Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta, Senin (17/10)

Lebih jauh Agus menambahkan dalam pertemuan G20 di Paris selain revisi pertumbuhan ekonomi dunia, pertumbuhan ekonomi di negara maju berada pada kisaran 1,5% dan negara berkembang sekitar 6%. "Bahkan kemunginan perekonomian dunia hanya 1% dikoreksi dari 4%," tegasnya.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini mengungkapkan setidaknya ada 5 peringatan dini yang mesti diperhatikan dan harus diwaspadai akibat krisis perekonomian global. Pertama, intensifikasi risiko di Eropa. "Intensifikasinya akan sangat menjadi-jadi karena pengelolaan fiskal, perbankan, likuiditas, dan juga secara politik di negara Eropa bersatu harus menyetujui program-program penyelamatan," tambahnya

Yang kedua, lanjut Agus, soal perlambatan ekonomi di Amerika Serikan. Karena kelambatan public debt, house hold debt, fiskal, mortgage dan belum selesainya perumahan di negara Paman Sam tersebut. Lalu yang ketiga, Shock global Soverign debt. "Negara-negara global sovereign bonds akan koreksi. Di global SUN atau SBN bisa berpengaruh. Itupun bisa pengaruh ke Indonesia," terangnya

Dikatakan Agus, yang keempat adalah ancaman overheating negara-negara berkembang. Kelima, risiko perekonomian Timur Tengah. "Ini harus diwaspadai," imbuhnya

Ditempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan guna mengantisipasi krisis global yang terjadi sekarang ini, pemerintah mengingatkan kepada pemerintah daerah agar tidak menutup diri dari daerah atau provinsi lain. Alasanya, ini merupakan salah satu langkah dalam antisipasi krisis global yang disinyalir akan menurunkan nilai ekspor Indonesia.

"Kalau terjadi permintaan menurun, terkena ke Indonesia walaupun ekspor tidak besar ke Eropa, tapi kita harus mengoptimalkan perdagangan antarpulau dan provinsi. Daerah jangan menutup diri daerah lain," ujarnya

Bukan hanya itu, guna menjaga pertumbuhan perekonomian Indonesia dan mengantisipasi gejolak akibat krisis global, maka optimalisasi belanja negara dalam APBN sangat diperlukan. "Salah satu instrumen penting lainnya adalah menjaga APBN kita. Keinginan saya impact setiap rupiah APBN harus mengena," tukasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan dampak dari krisis global yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa akan dirasakan dampaknya oleh Indonesia pada Oktober ini. Bahkan bukan tidak mungkin dirasakan pada penurunan ekspor walaupun tidak signifikan. "Dampak krisis baru akan dirasakan Oktober 2011 ini, tapi tidak akan begitu besar karena adanya kebijakan atau antisipasi dari pemerintah," jelasnya

Lebih lanjut, dia mengatakan, barang ekspor Indonesia yang ditakutkan menurun karena adanya krisis kemungkian tidak akan terjadi karena barang ekspor Indonesia tidak banyak dimiliki oleh oleh negara lain, sehingga persaingan ekspornya menjadi kecil. "Produk-produk ekspor kita tidak banyak kompetitornya, jadi masih membutuhkan barang kita," tambahnya.

Walaupun demikian, sambung Rusman, walaupun nantinya terjadi penurunan ekspor ini tidak akan signifikan atau drastis, dan juga karena adanya diversifikasi ekspor oleh pemerintah. "Kalau terjadi tidak akan cukup besar, turun dan ini tidak drastis, dan juga adanya diversifikasi ekspor," tandasnya **cahyo

Related posts