Perlambatan Ekonomi Eropa dan AS Bisa Berpengaruh

BI Tingkatkan Kewaspadaan

Rabu, 12/10/2011

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) mengakui perlambatan ekonomi global yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) dalam jangka pendek bisa mempengaruhi Indonesia, khususnya pasar keuangan nasional. "Dengan terus mewaspadai perlambatan ekonomi di Uni Eropa dan Amerika Serikat yang secara jangka pendek sangat berpengaruh khususnya di pasar keuangan kita,” kata Gubernur BI Darmin Nasution, di Jakarta, (11/10)

Menurut Darmin, beberapa tanda-tanda pengaruh yang sudah dirasakan kuat adalah terjadinya fluktuasi rupiah yang cukup kuat. Demikian juga dengan gejala capital outflow. “Hal ini ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah, besarnya dan arus modal keluar (capital outflows)," tambahnya

Lebih jauh kata mantan Dirjen Pajak ini, BI sengaja memutuskan menurunkan tingkat suku bunga kreditnya sebanyak 25 basis poin menjadi 6,5%. Hal ini selain untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global, juga dilakukan bank sentral karena melihat perekonomian Indonesia yang sedang aman. "Hasil rapat dewan gubernur memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga BI sebanyak 25 basis poin menjadi 6,5%," terangnya

Langkah menurunkan BI rate ini, menurut Darmin, sudah tepat karena fundamental perekonomian yang kuat dan perkiraan inflasi di bawah 5% sampai akhir 2011 dan juga perkiraan inflasi yang terus menurun di tahun depan. "Inflasi kita sampai saat ini hanya 4,7% (ytd) ke depan, di tahun depan inflasi pun akan tetap berada di bawah 5%, cadangan devisa kita mencapai USD114 miliar, perbankan kita kuat dengan CAR di atas 8% NPL di bawah 5% dan pertumbuhan kredit di 23,8% sampai September 2011," imbuhnya

Menyinggung soal neraca pembayaran Indonesia (NPI), Darmin optimis akan mengalami surplus pada triwulan IV-2011 setelah mengalami tekanan akibat terjadinya aliran modal keluar pada triwulan sebelumnya. "Secara keseluruhan 2011, NPI diprakirakan akan tetap mencatat surplus yang cukup besar," tuturnya

Surplus NPI ini diperkirakan akan tetap berlangsung pada 2012 terutama didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang terus meningkat, baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung.

Sejalan dengan itu, cadangan devisa pada akhir September 2011 tercatat sebesar USD114,5 miliar, atau setara dengan 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Jumlah cadangan devisa tersebut lebih dari cukup untuk mendukung kestabilan nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, intervensi yang dilakukan BI untuk mengangkat nilai rupiah, membuat cadangan Devisa Indonesia turun menjadi USD114,502 miliar. Seperti diketahui, per 30 September, cadangan devisa tersebut turun sebanyak USD8,5 miliar jika dibandingkan dengan pekan kedua Agustus 2011. Padahal sebelyumnya, sampai pekan kedua Agustus 2011, cadangan devisa RI sudah menembus USD123 miliar bahkan sempat menembus USD124,5 miliar. Jumlah tersebut naik dari posisi akhir Juli 2011, sebesar USD122,7 miliar.

Ditempat terpisah, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan Indonesia jangan menjadi bangsa yang pesimistis seiring dengan gejolak perekonomian global yang saat ini sedang terjadi. "Kita jadi jangan menjadi bangsa yang pesimistis jika melihat badai," ungkapnya

Namun demikian, kata Hatta, Indonesia harus terus menerus mengembangkan market. Karena tantangan ke depan makin berat. "Jadi kita tidak boleh berhenti untuk melakukan upaya untuk mengembangkan market kita, mendiversifikasi market kita," pungkasnya. **cahyo