Ramai-Ramai Jual SBN Rp29,13 Triliun

NERACA

Jakarta---Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang mengungkapkan transaksi investor asing yang menjual (Surat Berharga Negara/SBN) mencapai Rp29,13 trilun. Adapun transaksi itu terjadi selama September 2011.

Investor asing terlihat ramai-ramai menjual SBN pada awal bulan, 5 September 2011, Senin (10/10/2011). Padahal kepemilikan investor asing pada SBN sempat mencapai Rp247,22 triliun. Namun pada 30 September 2011 investor asing itu mengalami penurunan kepemilikan pada SBN yang mencapai Rp218,09 triliun.

Berdasarkan catatan, investor asing pada SBN sempat menyentuh Rp251,23 triliun pada 9 September 2011. Pemerintah mengklaim telah mengelontorkan dana mencapai Rp8,878 triliun, guna menjaga kestabilan SBN dengan cara pembelian kembali (buy back).

Menurut Dirjen DJPU Rahmat Waluyanto, buy back merupakan upaya pemerintah dalam memantau secara ketat perkembangan pasar. "CMP (crisis management protocol) sudah disiapkan untuk menjalankan Bond Stabilization Framework," jelas dia.

Selain itu, kata Rahmat, pemerintah juga akan melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), dealer utama Surat Utang Negara (SUN) dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Hal ini demi memantau pergerakan negative. "Koordinasi itu dilakukan secara lebih intensif. Market surveillance juga dilakukan untuk memantau, jika ada dealer utama SUN yang melakukan penjualan SUN yang ditengarai akan merusak pasar," terangnya

Selain itu, lanjut Rahmat, guna menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), BI terus melakukan buy back terhadap SUN. “BI memang didorong melakukan buy back,” ucapnya

Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa semua pihak tidak perlu khawatir dengan cadangan devisa negara yang digunakan untuk menstabilkan pasar valas dan buyback SUN. "Pertumbuhan ekonomi 6,6%, inflasi kita masih di bawah 5% (year to date), pertumbuhan kredit perbankan hampir 24%, apalagi yang perlu dikhawatirkan? Jadi, kita tidak akan publish cadangan devisa kita sekian, tapi ini keyakinan buat di pasar, jumlah cadangan devisa kita cukup," ujarnya.

Pada September, kepemilikan SBN oleh BI melonjak mencapai Rp11,05 triliun. Pada akhir September, kepemilikan BI di SBN mencatatkan angka Rp17,03 triliun, dibandingkan awal bulan yang hanya Rp5,98 triliun.

Kepemilikan BI pada SBN berada pada level terendah pada 13 September, dengan angka Rp1,78 triliun. BI mencatatkan adanya kenaikan signifikan pembelian SBN pada 23 September. Sehari sebelumnnya, kepemilikan SBN BI hanya Rp2,42 triliun, namun pada 23 September naik Rp7,26 triliun ke angka Rp9,68 triliun.

Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti yakin jika ekonomi Indonesia masih dalam keadaan normal, meskipun para pemegang SUN menjualnya di pasar sekunder. "Jika semua pemegang SUN menarik kembali kepemilikannya di pasar, BI tidak perlu khawatir karena. SUN tidak memiliki dampak yang besar bagi perekonomian, paling hanya berkontribusi sekira 30 persen," ungkap Destri.

Destri menilai perekonomian Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat, didukung dengan besarnya cadangan devisa mencapai USD120 miliar. Karenanya, dia yakin ke depan perekonomian Indonesia masih jauh dari masa resesi. "Ekonomi kita di pasar modal kuat, perbankan kita juga kuat, capital aspect ratio(CAR) atau rasio kecukupan modalnya tinggi, Non Performing Loan (NPL) di atas 80%, angka kredit di atas 24% jadi tidak ada yang dikhawatirkan dengan ekonomi kita," tukas dia. **cahyo

Related posts