Inflasi September Diprediksi Di Bawah 1%

NERACA

Jakarta---Guncangan rupiah terkait krisis Eropa dan AS dinilai belum memberikan dampak berarti terhadap tekanan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi pada Agustus 2011 lalu sebesar 0,93% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,54, begitu juga inflasi bulan September ini diperkirakan masih di bawah 1%.

Macro Economic Specialist EC-Think Indonesia, Telisa Falianty, mengungkapkan perkiraan tingkat inflasi yang masih di bawah 1 persen tersebut karena hingga saat ini belum ada guncangan rupiah yang berarti. "Kita sih menilai masih belum terlalu ada guncangan. Artinya setelah koreksi kemarin Agustus setelah hari raya, saat ini belum ada guncangan yang berarti, jadi kita prediksi (inflasi) masih di bawah 1 persen," kata Telisa, di kantor EC-Think Indonesia, Jakarta, Selasa (27/9).

Lebih lanjut Telisa menyatakan, hingga saat ini tren depresiasi rupiah belum menunjukkan ke arah penurunan. "Jadi kalau depresiasi itu cenderungnya lebih cepat. Nah, cuma apakah depresiasi itu berlangsung lama atau tidak, atau hanya temporer saja atau hanya sebagai koreksi. Tapi kalau polanya terus berlanjut kita harus hati-hati justru di barang-barang impor. Itu akan mempengaruhi harga-harga kita. Tapi sejauh ini belum ada tekanan yang ini (pola berlanjut)," paparnya.

Selanjutnya, Telisa menegaskan bahwa untuk prediksi tingkat inflasi hingga akhir tahun ini belum bisa dipastikan. Karena hal itu perlu dilihat perkembangan yang terus berlanjut dari tren depresiasi rupiah. "Ya kalau akhir tahun, itu tergantung tren depresiasinya, kalau tren depresiasinya berlanjut bisa ada kenaikan," ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, ekspektasi mengenai krisis global juga bisa menyebabkan kepanikan orang sehingga berbondong-bondong menjaga aset misalnya dengan membeli emas. "Jadi sejauh ini belum ada guncangan yang begitu berarti. Cuma harga kemarin, karena Eropa sedang krisis, kan harga minyak rebound, ya agak naik lagi, nah itu mungkin yang perlu diperhatikan juga. Tapi sejauh ini belum terlalu (berpengaruh)," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan memperkirakan, inflasi September 2011 masih rendah, yakni sekitar 0,5%. Perkiraan tersebut dipengaruhi konsumsi dan kenaikan harga beras dan cabai merah. Dalam 2 minggu ini, harga cabai merah sudah naik 22% dibandingkan bulan lalu. "Kita harus antisipasi harga cabe merah. dibandingkan Agustus sudah ada kenaikan 22%," katanya.

Lebih jauh Rusman menjelaskan, survey BPS di pasar-pasar, transaksi belanja masyarakat masih rendah dalam dua minggu ini karena belum banyak masyarakat yang membelanjakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. "Setelah Lebaran justru inflasi masih rendah karena daya beli masyarakat belum normal," ujarnya.

Rusman berpendapat, terkait rencana pemerintah menaikkan cukai tembakau untuk rokok kretek tidak akan berdampak begitu signifikan bagi inflasi. Sebab, belanja rokok kretek lebih besar dibandingkan rokok putih dan kalau digabungkan hanya mencapai 1,6%. "Itu porsi di inflasi, kecil sekali," pungkasnya. **cahyo

Related posts