Mensinergikan Kepentingan Shareholder & Stakeholder

Sabtu, 01/10/2011

Shareholder merupakan pemangku kepentingan utama. Mengapa dikatakan demikian, karena pemegang saham menanamakan modalnya dalam perusahaan dimana sekaligus juga yang menanggung resiko kehilangan modalnya. Sementara stakeholder merupakan kelompok-kelompok yang berada di dalam ataupun di luar perusahaan yang mempunyai peranan dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Artinya, pemangku kepentingan lainnya ini, tidak secara langsung memiliki keterkaitan dalam penyertaan modal perusahaan.

Neraca. Perusahaan dinilai penting untuk memperhatikan kepentingan berbagai stakeholder. Hal ini dikarenakan, perusahaan dapat menghasilkan keuntungan maksimal secara langgeng jika mendapatkan dukungan penuh dari seluruh stakeholder. Untuk itu, yang diperlukan dalam sebuah perusahaan adalah bagaimana mensinergikan kepentingan shareholder dengan kepentingan stakeholder lainnya, sehingga memberikan manfaat optimal bagi semua pihak. Namun, tentu saja tidak berarti bahwa perusahaan harus memikirkan kepentingan stakeholder lainnya diatas kepentingan pemegang saham.

Perusahaan harus dikelola sesuai tujuan didirikannya perusahaan, sebagai perwujudan kepentingan pemegang saham. Ini dilakukan agar perusahaan tidak kehilangan kepentingan privacy-nya.

Mengutamakan kepentingan pemegang saham tanpa mempertimbangkan kepentingan stakeholder, yang mempunyai risiko dalam kelangsungan hidup perusahaan tidak sepenuhnya benar. Perusahaan umumnya sudah bukan dimiliki oleh individu, apalagi dengan model peningkatan modal melalui pasar modal. Perusahaan kini dimiliki oleh banyak pemegang saham, dan manajemennya diserahkan kepada profesional. Ditambah lagi adanya pemegang saham yang menyertakan modalnya untuk tujuan spekulasi pasar. Pemegang saham jenis ini dipastikan tidak terlalu peduli dengan kebijakan perusahaan, karena belum tentu memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga kelangsungan perusahaan. Keterlibatan stakeholder dalam pengoperasian perusahaan juga bisa menimbulkan banyak gangguan terhadap proses manajemen, itu sebabnya perlu ada batasan keikutsertaan stakeholder dalam operasional perusahaan.

Jika pendekatan stakeholder diterapkan, maka model yang baik seharusnya dapat membantu mengatasi kompleksitas persoalan yang ada. Dalam pengelolaan perusahaan, pemegang saham perlu diberikan porsi perhatian yang cukup. Namun, menjadikan perusahaan warga negara yang baik juga merupakan hal penting bagi perusahaan maupun komunitas. Umumnya dalam jangka panjang akan membantu meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham.

Mengenai bagaimana cara mensinergikan kepentingan berbagai pihak, menurut Jalal dari Lingkar Studi CSR (Corporate Social Responsibility), mengatakan bahwa tentu saja model tersebut perlu disesuaikan dengan sistem hukum, perbedaan kepentingan, karakter bisnis, kondisi lingkungan, serta kultur bangsa. ”Model tersebut harus tetap menjaga keberadaan pengendalian risiko dalam setiap proses bisnis juga mampu menangkap peluang bisnis. Kita perlu mendefinisikan apa sebenarnya kepentingan stakeholder, komponen didalamnya, serta bobot yang wajar dari setiap komponen. Dengan demikian kepentingan stakeholder bisa dipastikan dapat bersinergi dengan kepentingan pemegang saham”, ungkapnya.

Dalam melakukan sinergi, kepentingan berbagai pihak diselaraskan dengan tujuan perusahaan. Menurutnya adalah, dengan melakukan tanggung jawab sosial yang salah satu caranya adalah dengan menerapkan kegiatan CSR. CSR dinilai menjadi bagian integral strategi dari sebuah perusahaan. CSR disini memasukan berbagai komponen tanggungjawab perusahaan terhadap stakeholder dan juga tanggung jawab perusahaan dalam meningkatkan keuntungan. Sebagai contoh, salah satu produsen sabun memiliki misi untuk membuat penduduk di Indonesia memenuhi kebutuhan higienis.

Misi ini dilandasi oleh fakta-fakta antara lain seperti anak dibawah usia 5 tahun meninggal karena diare dan infeksi pernapasan serius. Yang mana dengan menjaga kebersihan tangan, risiko terkena diare dapat dikurangi sebesar 40% serta risiko terkena infeksi pernapasan dapat dikurangi sebesar 30%. Selaras dengan misi tersebut, disusun strategi untuk meningkatkan kesadaran dan pola hidup sehat.

Implementasi strategi ini dilakukan untuk mengkampanyekan hidup bersih mulai dari cuci tangan. Bentuk pelaksanaannya, disatu sisi perusahaan mengeluarkan biaya untuk mempromosikan pola hidup sehat kepada masyarakat. Sedang dari sisi bisnis terlihat ada kenaikan penjualan produk sabun antiseptik. Dengan demikian kepentingan pemegang saham juga terpenuhi.

Contoh lain adalah, produsen mobil yang berusaha mengefisiensikan penggunaan bahan bakar, menjadikan ramah lingkungan, mengurangi efek pemanasan global, sekaligus menguntungkan bagi konsumen. Ditengah krisis keuangan, masyarakat semakin sadar akan efisiensi dan ramah lingkungan, sekaligus sebagai pemicu penjualan dan keuntungan. Profitabilitas yang tinggi pada giliran berikutnya juga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi karyawan perusahaan.