Prospek Kemitraan AA

Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung di Jakarta dan Bandung (19-24 April) pada intinya menyiapkan agenda penting untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan di Asia dan Afrika.

Adapun tujuan penyelenggaraan konferensi adalah menjalin tatanan dunia baru yang lebih seimbang dan adil. Selain tujuan bersifat abstrak, juga sulit terealisasi dengan baik dalam waktu singkat. Pasalnya, dunia kini tengah dihadapkan pada kesenjangan antara negara kaya-industri maju di satu sisi dan negara negara berkembang di sisi lain.

Tetapi, pergerakan organisasi kelompok negara emerging sulit berkembang. Pertama, kurang dikelola secara serius. Kedua, dokumen kemitraan strategis baru Asia-Afrika (NAASP) yang dihasilkan pada KTT Asia-Afrika 2005 di Bandung tidak dikelola secara konkret menghadapi perubahan drastis Benua Asia dan Afrika. Ketiga , konsep Dasa Sila Bandung sulit diterjemahkan dalam masa sekarang.

Indonesia dalam melakukan kerja sama luar negeri sulit menghindari kemitraan global sebagai bagian dari diplomasi, termasuk KAA. Pada saat yang sama kemitraan komprehensif juga menjadi bagian penting dari diplomasi luar negeri Indonesia.

Dalam dunia yang semakin tanpa batas, pemerintahan Jokowi-JK, yang memperoleh legitimasi dari rakyat, patut memprakarsai kebijakan luar negeri yang lebih proaktif dan well thought out jika melihat negara yang secara strategis dan politis mampu menciptakan stabilitas dan perdamaian kawasan.

Saat ini Indonesia memiliki kemitraan komprehensif dengan beberapa negara seperti Jepang, Tiongkok, India, Australia, Brasil, Afrika Selatan. Meski secara resmi dengan Amerika Serikat, kemitraan komprehensif belum sepenuhnya tercipta, AS dan Indonesia terus berupaya merumuskan elemen-elemen penting, termasuk visi di antara dua negara.

Bagaimanapun, politik luar negeri Indonesia harus diarahkan untuk melindungi proses demokrasi di Indonesia. Sedangkan sasaran politik luar negeri Indonesia harus dibuat sedemikian rupa sehingga ia merupakan hasil dari sebuah keseimbangan antara keharusan menjaga kredibilitas internasional Indonesia dan komitmen untuk menegakkan demokrasi di dalam negeri.

Untuk itu, kemitraan global dapat diartikan terlalu abstrak, di tengah kebiasaan kita yang lebih berpikir mengenai bangsa dan negara. Dengan perubahan dunia sekarang yang begitu cepat, kerja sama antarnegara Asia-Afrika sulit untuk memperoleh kebersamaan apabila tidak ada semangat pembaharuan yang mendasari kerja sama itu. Globalisasi menempatkan Asia dan Afrika sebagai kelompok marginal.

Karena itu, dua benua itu sepakat untuk melakukan tindakan bersama guna mendapatkan keuntungan yang sepadan dari era globalisasi. Sementara itu, sejumlah persoalan seperti liberalisasi perdagangan, termasuk perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), belum dapat diarahkan secara langsung pada upaya pembangunan negara berkembang.

Jadi, kemitraan harus didasarkan pada berbagai inisiatif yang muncul, bukan bersandar pada agenda yang sudah ada, atau kerangka kerja sama dan agenda yang berlaku di kedua benua. Pada prinsipnya melaksanakan strategi kemitraan baru dengan dasar prinsip Dasa Sila Bandung.

BERITA TERKAIT

Bank NTB Syariah Jalin Kemitraan dengan 34 Lembaga

      NERACA   Mataram - Bank NTB Syariah menjalin kemitraan dengan 34 lembaga pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan pelaku…

Prospek Industri Pelayaran Nasional di 2019

Oleh: Ahmad Wijaya Memasuki tahun 2019 industri pelayaran diharapkan bisa menopang pertumbuhan ekonomi nasional dengan cara mengangkut dan mendistibusikan berbagai…

Prospek dan Tantangan Ekonomi 2019

Oleh: Sarwani Tahun berganti, ekonomi terus berdenyut memenuhi kebutuhan manusia mencapai kesejahteraan dan kemakmuran baru. Harapan dan prospek dikedepankan, namun…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Teror Pinjaman Online

Belakangan ini masyarakat resah di tengah maraknya tawaran pinjaman berbasis teknologi (online) akibat teror yang dilakukan pihak perusahaan Fintech. Teror…

Produktivitas PNS Saat Ini?

Banyak kalangan sering mempertanyakan mengapa  mayoritas PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Indonesia sering bekerja tidak produktif? Stigma malas senantiasa menempel…

Waspadai Ekspansi Bisnis Alipay

Masuknya alat transaksi non-tunai (e-money) Alipay dan WeChat ke Indonesia sepintas terlihat seperti gejala praktik bisnis biasa-biasa saja di tengah…