PT Timah Harap Indonesia Jadi Penentu Harga Timah Dunia

Kamis, 23/04/2015

NERACA

Jakarta - Indonesia melalui PT Timah (Persero) Tbk, berkeinginan sebagai penentu harga timah dunia untuk meningkatkan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakat bangsa ini. “Kami terus berupaya dan berkoodinasi dengan Kementerian Perdagangan, agar bangsa ini bisa menetapkan harga timah dunia," kata Dirut PT Timah (Persero) Tbk, Sukrisno, seperti dikutip laman Antara, Rabu (22/4).

Ia menjelaskan, saat ini, Indonesia merupakan produsen dan pengekspor timah kedua terbesar di dunia, sementara harga timah dunia masih ditetapkan bangsa lain. “Jika Indonesia menentukan harga timah ini, maka martabat bangsa ini di dunia internasional akan semakin disegani bangsa-bangsa lainnya,” ujarnya. Saat ini, kata dia, harga timah dunia masih di level 14 ribu dolar AS/ton atau masih murah dan belum menguntungkan perusahaan timah di Indonesia.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai penentu harga timah dunia, kata dia, saat ini masih dalam proses yaitu diberlakukannya sistem penjualan timah melalui satu pintu, atau transaksi timah hanya melalui Indonesian Commodity and Derivative Exchange (ICDX). “Setiap penjual dan pembeli diharuskan terdaftar dulu sebagai anggota di ICDX, setelah itu baru dapat melakukan transaksi di bursa Jakarta,” ujarnya.

Menurut dia, sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia, sudah saatnya Indonesia mampu menjadi penentu harga timah di pasaran. “Kami berharap ICDX dapat berperan sebagai bursa timah dan menjadi acuan harga timah internasional di masa depan,” ujarnya.

Semua Komoditas

Tak hanya komoditas timah saja, namun juga Indonesia dinilai mampu menjadi referensi harga komoditi dunia diantaranya untuk karet, kakao, CPO, teh, kopi, emas, tembaga, timah, nikel, dan batu bara. Maka dari itu, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan sedang menggarap rencana besar untuk menyusun strategi agar Indonesia dapat membentuk harga (price discovery) dan menjadi referensi harga komoditi dunia. Sebagai negara penghasil komoditi ekspor utama dunia, Bappebti meyakini langkah-langkah strategis ini dapat dilakukan melalui pemanfaatan bursa berjangka.

“Sebagai negara penghasil komoditi ekspor terbesar dunia seperti karet, kakao, CPO, teh, kopi, emas, tembaga, timah, nikel, dan batu bara, seharusnya kita dapat menciptakan harga komoditi yang menjadi referensi harga komoditi dunia," tegas Kepala Bappebti Sutriono Edi.

Sutriono menegaskan bahwa cita-cita Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri dalam perdagangan komoditi ekspor utama dunia yang dapat berperan membentuk dan menentukan harga (price discovery) komoditi dan menjadi rujukan harga komoditi dunia (price reference) dapat diwujudkan. "Kami meyakini cita-cita itu dapat kita raih meski selama ini masih mengalami kendala," ujar Sutriono.

Sejumlah tantangan pun dipaparkan Sutriono Edi. Saat ini, Indonesia belum menjadi pasar yang menarik bagi investor untuk bertransaksi atas komoditi ekspor dunia karena belum memiliki liquidity provider yang potensial untuk meningkatkan likuiditas pasar komoditi. Selain itu, pelaku pasar fisik komoditi belum terkonsolidasi dengan baik. Tantangan lainnya adalah belum tersedianya perdagangan fisik komoditi yang terorganisir, wajar, teratur, transparan dan akuntabel. "Untuk menyiasati permasalahan tersebut, diperlukan langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat pembentukan harga dan referensi harga komoditi dunia melalui pemanfaatan bursa berjangka," lanjut Sutriono.

Sutriono meminta seluruh pihak, para asosiasi komoditi mendukung upaya pemerintah ini terutama dalam mengembangkan bursa berjangka sebagai sarana pengelolaan risiko, pembentukan harga komoditi, dan sarana investasi. "Kita memerlukan strategi yang difokuskan pada pembentukan pasar fisik yang terorganisir, konsolidasi pasar komoditi, penerapan standar mutu komoditi, akses pembiayaan, dan paket regulasi," ujarnya.