Tantangan Investasi di Indonesia

Rabu, 22/04/2015

Oleh: Muhammad Hanif

Peneliti Indef

Dalam pidato pembukaan World Economic Forum on East Asia (WEF-EA) ke-24 yang dilangsungkan di Jakarta pada 19-21 April 2015, Presiden Joko Widodo meyakinkan lebih dari 700 pelaku bisnis dan pemimpin dunia bahwa keterlibatan mereka dalam membangun Indonesia merupakan suatu peluang bisnis yang besar. Indonesia sebagai emerging market yang tengah bergerak mejadi pusat produksi Asia berdaya saing tinggi membutuhkan investasi di berbagai sektor. Presiden menegaskan akan memberikan berbagai kemudahan dan keunggulan pelayanan bagi mereka yang serius berinvestasi di Indonesia.

Kemudahan dan keunggulan pelayanan dalam investasi di Indonesia melalui sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang digawangi oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) diklaim sudah membuahkan hasil. Realisasi investasi Indonesia tahun 2014 tumbuh 16,2% dari tahun sebelumnya. Di sepanjang tahun 2014 Penanaman Modal Asing (PMA) naik 13,5% senilai Rp 307 triliun. Akan tetapi pertumbuhan investasi di Indonesia dalam menyasar persaingan di Asia masih harus berhadapan dengan banyak tantangan. Dalam Global Competitiveness Report 2014-2015 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, saat ini indeks daya saing Indonesia menempati peringkat ke 34 dari 144 negara, masih berada dibawah Singapura (urutan 2), Malaysia (20), dan Thailand (31).

Indonesia masih terkendala dalam peningkatan efisiensi pembangunan terutama dalam hal tenaga kerja dan kesiapan teknologi informasi. Indonesia kalah bersaing dalam efisiensi pasar tenaga kerja yang menempati urutan 110 dari 144 negara atau dengan skor 3,8 dari nilai maksimal 7. Nilai ini dibawah rata-rata negara berkembang di Asia dengan skor diatas 4. Hal ini memiliki implikasi yang sangat besar dalam perumbuhan PMA terutama dalam pembangunan industri manufakur yang sangat berkaitan dengan efisiensi tenaga kerja.

Indonesia juga kalah dalam hal kesiapan teknologi informasi. Indonesia menempati urutan ke 77 dari 144 negara atau dengan skor 3,6 dari 7 dalam hal daya saing teknologi. Transfer teknologi dalam pengembangan investasi di Indonesia masih lemah, seiring dengan daya adaptasi teknologi yang juga rendah.

Selanjutnya dalam Global Competitiveness Report juga disoroti faktor problematik lainnya yang menjadi pertimbangan para investor menjalankan bisnis di Indonesia. Diantaranya adalah permasalahan korupsi, akses finansial yang minim, tingginya inflasi, inefisiensi birokrasi, infrastruktur yang belum memadai, ketidakstabilan kebijakan, dan berbagai faktor lainnya.

Usaha pemerintah dalam mempermudah investasi dan mempercepat pembangunan tidak bisa berhenti pada perbaikan administrasi saja. Pemerintah perlu secara serius melakukan pembenahan birokrasi terutama terkait pemberantasan korupsi yang menjadi salah satu indikator kepercayaan dalam berinvestasi. Selanjutnya penting untuk terus menyelaraskan kebijakan ketenagakerjaan yang berdaya saing dan penjaminan kesejahteraan buruh. Terakhir untuk menjamin keberlanjutan investasi yang memiliki nilai tambah domestik, pemerintah harus menegaskan adanya transfer teknologi dalam investasi di Indonesia. Diharapkan dengan hal diatas penanaman modal di Indonesia dapat bertumbuh dengan cepat dan berdampak signifikan pada pembangunan.