Perhatikan Penurunan Impor Barang Modal dan Bahan Baku

NERACA

Jakarta - Pemerintah harus memperhatikan perlambatan impor barang modal dan bahan baku pada kuartal I 2015 karena akan sangat mempengaruhi pembangunan infrastruktur untuk menstimulus capaian pertumbuhan ekonomi. "Impor barang modal terus jatuh. Ini dapat dikatakan 'net negative' untuk perekonomian, mengingat kandungan tinggi untuk produksi dari impor," kata ekonom DBS Bank, Gundy Cahyadi, di Jakarta, Rabu (15/4).

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik bahwa nilai impor bahan baku/penolong, dan barang modal selama kuartal I 2015 menurun di mana masing-masing 16,22% dan 10,31% dibanding periode sama di 2014.Secara kumulatif, nilai impor Januari-Maret 2015 turun 15,10% dibanding periode yang sama tahun lalu atau mencapai 36,70 miliar dolar AS.

Gundy juga menuturkan jika impor barang modal dan bahan baku terus melambat, namun belum ada perbaikan industri dalam negeri untuk substitusi impor, maka dampaknya akan signifikan memperlambat perekonomian secara jangka panjang.Karena itu, dia mendorong agar upaya pengembangan industri substitusi impor dipercepat.

Seperti diketahui, kebutuhan barang modal untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia, masih banyak dipenuhi oleh pasokan impor.Selain penurunan barang modal dan bahan baku, BPS juga mencatat pelambatan impor barang konsumsi sebesar 14.32% di kuartal I 2015.

Dari sisi ekspor, Gundy mengatakan pertumbuhan ekspor Maret sebesar 12,63% jika dibanding Februari 2015 merupakan capaian yang baik, dan dapat memberikan stimulus positif bagi kinerja transaksi berjalan.Namun, kata Gundy, jika melihat kuartal I 2015, nilai ekspor melambat 11,67% menjadi 39,13 miliar dolar AS dibanding periode sama sebelumnya.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan kinerja ekspor belum pulih sepenuhnya setelah mengalami pelambatan karena tekanan perekonomian global."Pertumbuhan ekspor masihi payah. Satu-satunya alasan mengapa neraca perdagangan mencatat surplus adalah kenyataan bahwa impor tren jauh lebih buruk daripada ekspor," pungkasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

KPK Dorong Keluarnya Perma Soal Barang Rampasan

KPK Dorong Keluarnya Perma Soal Barang Rampasan NERACA Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong keluarnya peraturan Mahkamah Agung (perma)…

BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok - Bidik Lebih Banyak Investor Asing

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

Minat Investasi di Pasar Modal Meningkat - Investor di Kalsel Tumbuh

NERACA Banjarmasin – Besarnya tekad PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk terus mengkampanyekan Yuk Nabung Saham dengan menggandeng beberapa perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Darmin Prediksi Inflasi Dibawah 4%

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan laju inflasi Indonesia bergerak ke arah…

Menkeu : Proyeksi IMF Berikan Kewaspadaan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi global Dana Moneter Internasional…

Sumbangan Devisa Pariwisata Masih Terbatas

      NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menilai sumbangan sektor pariwisata terhadap cadangan devisa Indonesia, masih relatif…