PTPP Genjot Pendapatan Recurring Income

Targetkan Tumbuh Sekitar 5%

Rabu, 15/04/2015

NERACA

Jakarta – Tidak hanya mengandalkan pendapatan dari bisnis utama di sektor konstruksi, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) terus merambah sektor lainnya, mulai dari beton, properti dan sektor yang menunjang infrastruktur. Kedepan melalui ekspansi bisnis tersebut, perusahaan konstruksi plat merah ini mempunyai target besar untuk pendapatan berkelanjutan atau recurring income sebesar 5% dari total pendapatan perseroan hingga 2020.

Sekretaris Perusahaan PTPP, Taufik Hidayat mengatakan, saat ini recurring income perseroan masih sebesar 1% dari total pendapatan dan kedepan akan terus digenjot dengan target tumbuh 5%. Dirinya menuturkan, rendahnya recurring income karena strategi yang diterapkan oleh perseroan. Dimana selama ini, PP selalu memilih menjadi minoritas dalam bisnis investasinya,”Dalam investasi di power plant, jalan tol dan pelabuhan, kami selalu mengambil porsi minoritas. Namun, kami menargetkan mendapatkan kontrak konstruksinya,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia melanjutkan, selain lebih fokus menargetkan kontrak konstruksi proyeknya, rendahnya recurring income perseroan karena PP selektif dalam memilih objek investasi. Namun, seiring dengan meningkatnya porsi investasi, perseroan menargetkan mampu meningkatkan pendapatan berkelanjutan secara bertahap dalam lima tahun.

Menurut Taufik, tahun ini perseroan menargetkan beberapa proyek pembangkit listrik (power plant) di Indonesia. Namun, dia belum bisa mengungkapkan tender yang diikuti. “Pada proyek itu perseroan juga mengincar porsi minoritas,” ucapnya.

PP juga masih melanjutkan kajian bisnisnya di Myanmar dan Vietnam. Taufik mengungkapkan bahwa kajiannya saat ini masih berada di business division perseroan. Menurut dia, Myanmar dan Vietnam masih menjadi tempat menarik untuk berinvestasi. Namun, sebelum berinvestasi ke luar negeri perseroan perlu melakukan kajian yang cukup panjang. “Kami masih akan lanjutkan rencana investasi ke Myanmar dan Vietnam,” tutur Taufik.

Sementara itu, PP melalui anak usahanya PT PP Pracetak bakal membuat pabrik pracetak baru di Lampung senilai Rp 100 miliar tahun ini. Pabrik tersebut nantinya bakal dibangun di atas lahan seluas 14.000 hektar (ha) dengan kapasitas sebesar 200.000 ton per tahun.

Direktur Utama PP Bambang Tribowo mengungkapkan, pabrik baru perseroan direncanakan memproduksi concrete spun pile D 800 dan D 1.000 dengan panjang 36 meter. “Produk ini tanpa sambungan sebagaimana diproduksi di pabrik Cilegon,” tuturnya.

Dia melanjutkan pabrik baru tersebut juga nantinya bakal memproduksi girder, CCSP dan square pile. Menurut Taufik, pembangunan pabrik di Lampung bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasokan beton pracetak di Sumatera. PP Pracetak menargetkan pemesanan baru tahun ini sebesar Rp 1,4 triliun naik 40% dibandingkan dengan realisasi 2014 sebesar Rp 1 triliun. Sedangkan pendapatan ditargetkan sebesar Rp 1,38 triliun naik 49% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 924 miliar. (id/bani)