Penjualan Semen Kuartal I-2015 Turun 3,3%

Proyek Infrastruktur Belum Mulai

Selasa, 14/04/2015

NERACA

Jakarta - Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyatakan, penjualan semen pada kuartal I tahun ini turun 3,3% menjadi 13,6 juta ton dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 14,07 juta ton akibat belum dimulainya proyek infrastruktur dan properti.“Proyek infrastruktur belum mulai dan masih masa persiapan, sehingga penjualan terkikis. Program pembangunan 1 juta rumah oleh pemerintah juga belum dimulai,” kata Ketua Umum ASI, Widodo Santoso di Jakarta, Senin (13/4).

Kondisi ekonomi global yang belum pulih serta harga komoditas yang belum membaik, menurut Widodo, turut menggerus penjualan semen. Selain itu, curah hujan masih cukup tinggi, sehingga pembangunan banyak terhambat. “Diharapkan awal Mei nanti tren permintaan semen meningkat tajam,” paparnya.

Tahun ini, lanjut Widodo, penjualan semen dalam negeri ditargetkan mencapai 62 juta ton, naik 3,5% dari tahun lalu sebanyak 59,9 juta ton. Pertumbuhan konsumsi semen 2015 akan ditopang oleh proyek-proyek pemerintah seperti Trans Sumatera, tol Menado-Bitung, tol Medan-Kuala Namu, proyek-proyek smelter, pembangunan pembangkit listrik dan PLTU, proyek MRT dan kereta api, hingga pengembangan pelabuhan di seluruh Nusantara.

“Pada 2015 juga akan ada tiga pabrik baru yang beroperasi, yakni pabrik Semen Tiga Roda berkapasitas 4,4 juta ton per tahun di Jawa Barat, pabrik semen Bosowa Maros berkapasitas 3 juta ton per tahun di Banten, dan pabrik semen Merah Putih berkapasitas 3 juta ton per tahun di Sulawesi Selatan. Intinya, kita tidak akan kekurangan pasokan semen dan pada 2016 seharusnya kita bisa mendongkrak ekspor ke Afrika, Bangladesh, dan Timur Tengah,” ujarnya.

Widodo menambahkan, pasar semen Maret lalu turun. Penjualan semen di semua daerah turun, kecuali Sumatera dan Sulawesi.“Penjualan semen domestik pada Maret 2015 turun 5,6% dibanding periode yang sama 2014. Penurunan terbesar terjadi di Nusa Tenggara yakni hanya 226.000 ton sepanjang Maret, anjlok hingga 28% dibanding Maret tahun lalu,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk Suparni mengatakan penjualan semen di awal tahun 2015 mengalami penurunan. Dengan situasi tersebut, Semen Indonesia mempertimbangkan untuk ekspor."Harapan kami semula, ada pertumbuhan pasar sekitar 5 hingga 7 persen. Tapi hingga Februari pertumbuhan itu belum ada. Bahkan, sedikit turun dari tahun yang lalu," ujar Suparmi.

Menurutnya, lesunya penjualan di awal tahun ini dikarenakan buruknya cuaca. Lalu belum adanya belanja infrastruktur pemerintah. “Tapi biasanya setelah April ini pasar kembali naik. Target kita masih tetap," ujarnya.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatat, pada Februari 2015, penjualan semen dari tiga anak perusahaan di dalam negeri itu sebesar 1,922 juta ton. Turun sekitar 2 persen dari tahun lalu yang mencapai 1,961 juta ton.

Rinciannya, pada periode Februari ini penurunan dialami PT Semen Padang sebesar 7,4 persen, atau sekitar 37.610 ton. Bahkan sepanjang dua bulan pertama tahun ini, penjualan turun 8,7 persen dari periode tahun sebelumnya.

PT Semen Tonasa juga mengalami penurunan sebesar 4,8 persen. Dari 422.718 ton menjadi 402.523 ton. Sementara, PT Semen Gresik mengalami pertumbuhan sekitar 1,8 persen, dari 1,032 juta ton menjadi 1,050 juta ton.

Konsumsi semen dalam negeri juga mengalami penuruan. Di Jawa turun 5,4 persen, dari 2,46 juta ton tahun lalu menjadi 2,33 juta ton. Di Sumatera turun sekitar 8,3 persen. Kalimantan juga turun 4,3 persen. Sulawesi turun 8,5 persen dan Nusa Tenggara juga mengalami penurunan hingga 8,8 persen. Namun, di Maluku dan Papua mampu tumbuh sekitar 3,3 persen.

Suparni mengaku, jika masih mengalami kelesuan, Semen Indonesia mempertimbangkan ekspor. "Jika situasi seperti ini, pasar akan berkurang dan mesin tetap harus jalan, kita akan melakukan ekspor," ujarnya.

Menurutnya, Semen Padang salah satu lokasi yang sangat baik untuk melakukan ekspor. Sebab, ekspor yang banyak itu biasanya di kawasan Asia Selatan. Sehingga, lebih dekat dan biaya lebih murah."Seperti di Srilanka, Bangladesh, dan Maladewa. Peluang ekspor masih terbuka di sana," ujarnya. Kata Suparni, bulan ini ada ekspor 52.155 ton ke Asia Selatan.