Optimalkan Sistem Keuangan!

Oleh : Tumpal Sihombing

Bond Practitioner & Lecturer

Apakah industri jasa keuangan domestik sudah berfungsi optimal ? Tentu ada respon yang berbeda antara versi pemerintah (dalam posisi selaku regulator) versus opini para pelaku pasar yang menilai dan merasakan sendiri kondisi industri jasa keuangan saat ini. Pemerintah tentu cenderung normatif demi menjaga stabilitas pasar, sementara para pelaku pasar lebih pragmatis dan apa adanya. Secara umum industri jasa keuangan kita masih belum terkategori “strong”. Itu artinya sistem keuangan domestik belum berfungsi optimal. Namun terlepas dari perbedaan opini dan peran dari ragam pelaku di dalam industri jasa keuangan Indonesia, ada definisi objektif yang bisa dijadikan sebagai acuan secara umum.

Industri jasa keuangan yang optimal adalah sistem keuangan yang berfungsi dengan baik. Ada beberapa ciri yang bisa dinilai untuk hal tersebut. (1) adanya pasar yang terbentuk dan beroperasi lancar dimana tersedia banyak ragam instrumen perdagangan (baik di pasar modal maupun pasar uang, hingga derivatif) yang memungkinkan pelaku pasar mampu menyelesaikan tantangan dan masalah keuangannya. Ini merupakan definisi dari pasar yang utuh, dimana transaksi antara sisi demand dan sisi supply berlangsung efisien dalam suatu price discovery mechanism dimana peran intermediari sangat mendukung dalam proses tersebut; (2) pasar yang likuid dimana cost of tradings relatif rendah jika dibandingkan dengan size dan regulasi peer di pasar global. Ini yang disebut sebagai pasar yang secara operasional terkategori efisien; (3) pelaporan (disclosures) yang tepat waktu baik oleh pemerintah maupun korporasi. Kondisi ini sangat membantu para partisipan pasar dalam melakukan valuasi fundamental terhadap instrumen/perusahaan yang aktif di dalam pasar. Ini merupakan suatu bentuk dukungan terhadap inisiatif pengembangan pasar yang lebih efisien; (4) harga-harga yang terbentuk di pasar telah merefleksikan nilai fundamental dari hal yang dinilai. Faktanya, ciri-ciri ini belum sepenuhnya terlihat dalam industri jasa keuangan domestik. Oleh karena itu, sistem keuangan Indonesia saat ini belum berfungsi secara optimal.

Dalam mengoptimalkan fungsi sistem keuangan domestik, peran entitas intermediari keuangan (industri jasa keuangan dan pasar modal) menjadi sangat strategis dan krusial. Untuk mencapai kondisi yang lebih optimal secara konsisten bertahap, Pemerintah sebaiknya lebih proaktif dalam hal : (a) mengorganisasikan bursa dan peran brokerage serta sistem perdagangan alternatif dalam proses mempertemukan pembeli dan penjual (para traders) di dalam pasar secara efisien; (b) menyediakan likuiditas yang cukup terhadap permintaan dari para traders (baik lokal maupun asing) agar pasar domestik lebih dinamis dan berkembang; (c) sekuritisasi aset (dengan underlying yang harus lebih beragam) dalam rangka penerbitan efek investasi derivatif sehingga menambah daya tarik dan minat para investor untuk masuk. Secara empiris hal ini terbukti dapat menurunkan biaya dana di sisi peminjam; (d) mengoptimalkan peran perbankan dalam mempertemukan investor-borrower via penyediaan/penciptaan instrumen keuangan yang lebih beragam dari yang kini tersedia di pasar domestik. Products enrichment dan market education menjadi keharusan; Masih banyak PR Otoritas Jasa Keuangan.

BERITA TERKAIT

Tantangan Pengelolaan Keuangan Negara Di Era Digital

      NERACA   Jakarta - Disrupsi teknologi di era digital telah memorak-porandakan tatanan dan model bisnis konvensional yang…

Tekan Angka Kerugian - BBRM Optimalkan Utilisasi Kapal Offshore

NERACA    Jakarta – Meskipun geliat industri batu bara kembali tumbuh, kondisi tersebut belum memacu optimisme PT Pelayaran Nasional Bina Buana…

Sistem Zonasi PPDB Melanggar Konstitusi

Sistem Zonasi PPDB Melanggar Konstitusi   NERACA Jember, Jawa Timur - Pengamat hukum Universitas Jember Dr Nurul Ghufron mengatakan sistem zonasi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Industri Harus Bayar Pajak

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Mengacu pada pendapat umum yang berlaku, maka semua kegiatan maupun proses ekonomi…

Jakarta dan Wajah Baru

    Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Selama 492 tahun bukan waktu yang singkat…

Mengambil Untung dari Perang Dagang

  Oleh: Nailul Huda, Peneliti INDEF   Sudah lebih dari 3 tahun pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat…