Bappebti: RI Mampu Jadi Poros Harga Komoditi Dunia

Jumat, 10/04/2015

NERACA

Jakarta - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan sedang menggarap rencana besar untuk menyusun strategi agar Indonesia dapat membentuk harga (price discovery) dan menjadi referensi harga komoditi dunia. Sebagai negara penghasil komoditi ekspor utama dunia, Bappebti meyakini langkah-langkah strategis ini dapat dilakukan melalui pemanfaatan bursa berjangka.

"Sebagai negara penghasil komoditi ekspor terbesar dunia seperti karet, kakao, CPO, teh, kopi, emas, tembaga, timah, nikel, dan batu bara, seharusnya kita dapat menciptakan harga komoditi yang menjadi referensi harga komoditi dunia," tegas Kepala Bappebti Sutriono Edi, seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (9/4).

Sutriono menegaskan bahwa cita-cita Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri dalam perdagangan komoditi ekspor utama dunia yang dapat berperan membentuk dan menentukan harga (price discovery) komoditi dan menjadi rujukan harga komoditi dunia (price reference) dapat diwujudkan. "Kami meyakini cita-cita itu dapat kita raih meski selama ini masih mengalami kendala," ujar Sutriono.

Sejumlah tantangan pun dipaparkan Sutriono Edi. Saat ini, Indonesia belum menjadi pasar yang menarik bagi investor untuk bertransaksi atas komoditi ekspor dunia karena belum memiliki liquidity provider yang potensial untuk meningkatkan likuiditas pasar komoditi. Selain itu, pelaku pasar fisik komoditi belum terkonsolidasi dengan baik. Tantangan lainnya adalah belum tersedianya perdagangan fisik komoditi yang terorganisir, wajar, teratur, transparan dan akuntabel.

"Untuk menyiasati permasalahan tersebut, diperlukan langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat pembentukan harga dan referensi harga komoditi dunia melalui pemanfaatan bursa berjangka," lanjut Sutriono.

Sutriono meminta seluruh pihak, para asosiasi komoditi mendukung upaya pemerintah ini terutama dalam mengembangkan bursa berjangka sebagai sarana pengelolaan risiko, pembentukan harga komoditi, dan sarana investasi. "Kita memerlukan strategi yang difokuskan pada pembentukan pasar fisik yang terorganisir, konsolidasi pasar komoditi, penerapan standar mutu komoditi, akses pembiayaan, dan paket regulasi," ujarnya.

Harga Naik

Dekan IPMI International Business School Roy Sembel memprediksi harga komoditas dunia diyakini mulai menggeliat pada semester II-2015. Harga komoditas pertanian dan perkebunan akan lebih dulu beranjak naik, baru kemudian diikuti oleh komoditas pertambangan dan lainnya. Itu terjadi seiring perbaikan harga minyak (crude oil) mulai awal semester II tahun ini menyusul berhentinya produksi minyak di Amerika Serikat (AS).

Ia mengatakan harga komoditas yang akan mulai bersinar dengan kenaikan signifikan pada semester II-2015 adalah dari perkebunan-pertanian, seperti sawit, coklat, karet, hingga singkong. "Perbaikan ekonomi yang dibarengi dengan peningkatan jumlah penduduk akan mendorong permintaan barang-barang yang bisa langsung dikonsumsi seperti pangan," katanya.

Kenaikan akan semakin signifikan apabila inovasi akan produk-produk tersebut dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah melalui proses pengolahan. “Kalau Indonesia mulai dari sekarang mengintensifkan hilirisasi, meningkatkan nilai tambah dengan memberikan insentif dan dukungan, seperti infrastruktur, Indonesia bisa menikmati kenaikan harga secara berlipat,” kata dia.

Menurut Roy, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya memang akan membaik pada semester II-2015. Namun tidak akan terlalu signifikan seperti pada periode 2011-2012 yang mencapai US$ 1.000 per ton. “Kalau sampai US$ 700 per ton itu mungkin di akhir tahun, tapi apa penyebab kenaikannya harus jelas, kalau memang hilirisasi biodiesel berjalan konsisten angka itu bisa tercapai,” kata Roy.

Sedangkan harga komoditas pertambangan juga akan naik pada semester II-2015, namun belum terlalu signifikan. Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas yang berkaitan langsung dengan infrastruktur seperti besi dan baja. Perbaikan ekonomi India dan Tiongkok akan memacu pembangunan infrastruktur. “Kalau untuk batubara sepertinya jangka pendek atau dalam semester II-2015 belum akan membaik.Harga batubara akan normal dalam 1-2 tahun lagi ketika harga crude oil juga kembali normal,” ungkap dia.

Berdasarkan data Bank Dunia yang dilansir 3 April 2015, rata-rata harga crude oil pada Januari-Desember 2012 masih bertengger di US$ 105 per barel, namun terus merosot pada tahun-tahun berikutnya. Pada Januari-Desember 2024 masih US$ 96,2 per barel, namun pada Oktober-Desember 2014 hanya US$ 74,6 per barel, dan pada Januari-Maret 2015 hanya US$ 51,6 per barel. Penurunan harga crude oil diikuti oleh merosotnya harga komoditas lainnya, baik komoditas energi maupun non-energi, seperti pertanian, pangan, mineral mentah, dan lain sebagainya.