Indonesia Berencana Investasi di Kazakhstan

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta -Indonesia berencana membangun pabrik ban mobil dan mie instan di Kazakhstan sebagai upaya meningkatkan nilai perdagangan dan investasi di negara kawasan Asia Tengah."Sudah ada penandatanganan antara pebisnis dan sektor swasta di bidang investasi untuk ban mobil dan pembangunan pabrik mi instan, namun implementasi pembangunan pabrik tersebut perlu waktu," kata Direktur Asia Selatan dan Tengah, Listyowati, di Jakarta, Rabu (8/4).

Dia mengatakan produk karet merupakan salah satu komoditas utama yang ditawarkan ke pasar Asia Tengah terutama Kazakhstan.Menurut Listyowati, pabrik mi instan merupakan investasi yang sangat potensial karena Kazakhstan memproduksi gandum secara melimpah yang dapat digunakan sebagai bahan utama mie instan.

Selain ban kendaraan dan mi instan, Indonesia juga mengandalkan komoditas lain untuk diekspor, seperti obat-obatan, tekstil, rempah-rempah, furnitur, suku cadang kendaraan dan porduk besi baja.Perluasan investasi di Kazakhstan ini merupakan upaya untuk menembus pasar nontradisional di negara-negara kawasan Asia Tengah, yakni Azerbajian, Kazakhstan, Kyrgizstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan.

Selama periode 2010-2014, tren perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara di Asia Tengah masih tergolong kecil bahkan mengalami penurunan.Nilai perdagangan Indonesia dengan Kazakhstan menurun ( minus 3,42%), Kyrgizstan (minus 23,17%), Tajikistan (minus 43,65%) dan Turkmenistan (minus 43,65%).

Hanya dua negara yang mengalami tren positif selama kurun waktu tersebut, yakni Azerbajian sebesar 21,84% dan Uzbekistan 16,26%.Minimnya investasi yang dibangun Indonesia di negara Asia Tengah karena mahalnya biaya logistik dan transportasi untuk pengiriman ke negara Asia Tengah serta sebaliknya.

Selain itu, pemahaman potensi produk yang belum begitu dikenal oleh pengusaha setempat dan Indonesia serta adanya hambatan tarif akibat pemberlakuan penyatuan kepabeanan kawasan.Hambatan lainnya adalah mata uang negara setempat, seperti Uzbekistan, Turkmenistan dan Kyrgyzstan yang belum konvertibel dengan valuta asing serta lamanya prosedur transfer antarbank. [ardi]