Krisis Eropa Juga Memukul Fiskal - Selain Hambat Pertumbuhan

NERACA

Jakarta---Krisis yang terjadi di Eropa saat ini diperkirakan akan memukul 2 sektor di Indonesia, yakni pertumbuhan ekonomi dan dampak fiskal. Yang jelas, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ikut turun. Karena ekspor juga akan menurun. "Ada dua dampak yang kita alami. Sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi turun, dan sisi fiskal, Munculnya risk off, sewaktu-waktu awal Agustus, tiba-tiba investor menarik dananya, itu akan berulang," kata Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kepada wartawan di Jakarta,19/9

Lebih Perry menambahkan BI terus memantau gejolak ekonomi yang terjadi ini, walaupun memang sekarang ini belum ada dampak yang besar, tapi dia mengatakan akan tetap menjaga dan mengawasi gejolak global sekarang ini. "Dan dari sisi fiskal juga kita waspadai dampak trade channel," tambahnya.

Diakui Perry, Krisis Eropa ini sangat besar pengaruhnya pada Indonesia. Bukan tidak mungkin akan semakin parah ke depannya. Alasanya belum ditemukan jalan keluar untuk penyelesaian krisis di Eropa. "Saya bukannya menakut-nakuti, tapi memang kondisi Eropa belum jelas penanganan utang Eropa seperti apa, rekap bank-bank di Prancis juga, dan ini dampaknya terhadap Italia relatif besar. Kemudian ini berpengaruh terhadap ekonomi China, dan negara-negara berkembang termasuk Indonesia," jelasnya

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo tetap optimis Indonesia bisa menahan imbas krisis ekonomi Eropa. Alasanya Indonesia punya pengalaman mengatasinya. "Krisis 2008/2009 itu sebetulnya adalah salah satu guru utama kita. Yang perlu kita jaga dari dunia yang isa berdampak buruk pada Indonesia adalah terpukulnya peranan ekspor kita dan terpukulnya rencana investasi dari beberapa negara maju ke Indonesia," ujarnya

Lebih jauh kata Agus, pemerintah sedang mempersiapkan program stimulus yang intinya ditujukan menjaga situasi ekonomi domestik Indonesia dan menjaga tertundanya investasi asing ke Indonesia. "Jadi kita akan memberikan perhatian kepada bentuk-bentuk penguatan ekonomi Indonesia dan perbaikan infrastruktur. Ini semua merupakan respons pemerintah apabila kondisi global itu memberatkan Indonesia," tuturnya.

Dikatakan mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, saat ini situasi ekonomi di Eropa makin mengkhawatirkan dan perlu diwaspadai agar tidak berdampak kepada memburuknya perekonomian Indonesia. Karena itu besaran stimulus yang disiapkan kurang lebih sama dengan stimulus saat menghadapi krisis 2008/2009 lalu yang jumlahnya saat itu Rp 11,3 triliun.

"Di tahun 2008 kan begitu krisis terjadi itu ada situasi yang membahayakan, kita langsung konsolidasi, menghemat yang tidak perlu dikeluarkan, penundaan yang tidak perlu dikeluarkan kemudian kita merevisi APBN, kita memberikan stimulus," jelas Agus.

Stimulus ini akan menjadi pagar agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh meskipun ada ancaman krisis dari luar. **cahyo

BERITA TERKAIT

OJK Siapkan Lima Kebijakan Dorong Pertumbuhan 2019

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan lima inisiatif kebijakan untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas pemerintah,…

Tak Hanya Ojek Online, Ojek Pangkalan Juga Diatur

      NERACA   Jakarta - Ojek pangkalan kemungkinan juga akan diatur seperti ojek daring yang dilatarbelkangi eksistensinya di…

BKPM Sambut Investor Asing Kapas Kosmetik dari Eropa

NERACA Jakarta – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyambut baik atas info positif, akan masuknya sejumlah investor asing di sektor…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Proyek KPBU Tak Terganggu Tahun Politik

  NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memastikan proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai dengan skema…

BPS Sebut Angka Kemiskinan Terus Turun

      NERACA   Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka penduduk miskin pada September 2018 terus mengalami…

Apkasi Dukung Program P3K 2019

NERACA Jakarta - Jika tidak ada aral melintang, penerimaan tenaga honorer melalui program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau…