Transmigrasi Dinilai Solusi Atasi Masalah Pangan

Senin, 06/04/2015

NERACA

Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar mengatakan program transmigrasi bisa mengatasi masalah pangan nasional asalkan seluruh potensi sumber daya dioptimalkan untuk mendukung kebijakan swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah.

"Program transmigrasi bisa menjadi solusi konkret masalah pangan nasional. Bila kami diberi amanah, kami siap memberdayakan lahan-lahan transmigrasi menjadi pusat produksi pangan nasional, utamanya beras," kata Marwan, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Marwan yakin Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah yang memperbolehkan impor beras dalam kondisi tertentu bukan untuk mendukung impor beras.

Inpres tersebut hanya untuk mengantisipasi apabila target produksi padi nasional pada 2015 sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling tidak tercapai karena faktor alam seperti cuaca yang buruk.

Inpres tersebut juga menegaskan selama pengadaan beras dalam negeri masih mencukupi Pemerintah tidak akan melakukan impor.

"Inilah tantangannya, mampukah kita memenuhi target produksi beras nasional? Saya sendiri optimis sumberdaya agraris kita bila dioptimalkan bisa memenuhi target swasembada beras seperti yang dicanangkan pemerintah," tuturnya.

Marwan mengatakan lahan transmigrasi yang tersebar di luar Jawa selama ini sudah terbukti sebagai salah satu lumbung beras nasional yang konsisten memberikan kontribusi hingga 5,8juta ton beras setiap tahun.

Marwan mengatakan program transmigrasi yang mulai digalakkan kembali tahun ini akan diarahkan untuk mendukung pencapaian target swasembada pangan nasional utamanya beras.

Kekurangan lahan pertanian nasional yang diperkirakan perlu tambahan lahan baru seluas dua juta hektar, bisa dipenuhi dari lahan transmigrasi seluas sembilan juta hektar yang disediakan pemerintah.

"Kami akan memverifikasi mana lahan yang bisa dijadikan sawah untuk padi, mana yang untuk jagung, kedelai, tebu, dan sebagainya. Selama lahan itu cocok, akan diprioritaskan untuk menanam padi supaya produksi beras meningkat dan swasembada pangan nasional cepat tercapai," katanya.

Karena itu, Marwan mengatakan calon transmigran akan diutamakan dari kalangan petani yang telah memiliki keahlian atau pengalaman dalam bertanam padi agar bisa langsung mempraktekkan keahliannya di tempatnya yang baru.

Marwan optimistis banyak keluarga petani dari Jawa yang tertarik ikut program transmigrasi daripada terus menerus jadi buruh tani karena tidak punya lahan sendiri atau modal usaha.

Apalagi setiap keluarga transmigran akan mendapat jatah lahan untuk digarap, rumah tinggal, bantuan uang bulanan, sarana dan prasarana untuk bekerja.

"Saya optimistis bila didukung dengan benih unggul, pupuk, peralatan, teknologi, penyuluhan, dan pendampingan, maka program transmigrasi bisa menjadi solusi kongkret terhadap masalah pangan nasional," paparnya.

Dirinya, menargetkan empat juta transmigran dalam lima tahun untuk menciptakan lapangan kerja dan desa-desa baru di Indonesia, diantaranya di Provinsi Kalimantan Utara dan Sulawesi Barat. [agus]