Mulai Pasarkan Super UHD TV, LG Bidik Pertumbuhan 400%

NERACA

Jakarta - Lewat sebulan sejak dikenalkan perdana di Indonesia, PT. LG Electronics Indonesia mulai memasarkan koleksi baru dari lini 4K Ultra HD TV. Hadir dalam dua seri di bawah tajuk LG Super UHD TV, inovasi dalam kualitas reproduksi warna dan kekuatan audio menjadi andalan LG untuk merebut perhatian calon penggunanya. Berlangsung sepanjang lima hari hingga 5 April 2014, kemeriahan pemasaran perdana ini berlangsung di atrium Senayan City Mall Jakarta.

"Pemasaran perdana ini sekaligus menandai langkah penetrasi besar kami untuk mendominasi pasar 4K Ultra HD TV di Indonesia," ujar Head of TV Product Marketing – PT. LG Electronics Indonesia, Terry Putera Santoso, dalam keterangan resmi yang diterima Neraca, akhir pekan kemarin.

Tak tanggung-tanggung, menurutnya, LG menetapkan target pertumbuhan penjualan sebesar 400% untuk kategori 4K Ultra HD TV di tahun ini. Lebih lanjut ia menyatakan, keberhasilan langkah LG dalam penetrasi besarnya di tahun ini bakal semakin memantapkan dominasi perusahaan dalam pasar 4K Ultra HD TV di Indonesia. Berdasarkan data internal, saat ini LG merupakan pemuncak dalam pasar 4K Ultra HD TV di dalam negeri dengan penguasaan pasar 51%.

LG Super UHD TV hadir dalam dua varian yaitu UF950T dan UF850T. Untuk seri UF950T, LG menawarkannya dalam bentang layar 55inch dan 65inch. Sementara seri UF850T varian bentang layarnya lebih luas mulai 49inch, 55inch, 60inch dan 65inch. Kisaran harganya sendiri ditawarkan dalam rentang 20 juta hingga 50 juta rupiah.

Sebagai varian baru dari jajaran 4K Ultra HD TV koleksinya, LG Super UHD TV pembaruan besar dalam hal visual dan kualitas audio. Dari sisi visual yaitu dalam reproduksi warna, pengembangan dilakukan melalui adopsi teknologi Color Prime yang membuatnya mampu memperkaya warna hingga mendekati kualitas OLED TV.

Terapan teknologi Color Prime membuat seri LG Super UHD TV memiliki lapisan film khusus berisi kristal dalam ukuran nano dengan dimensi 2 hingga 10 nanometer dari material semi konduktor. Peletakannya tepat di depan jajaran lampu LCD yang menjadi sumber pencahayaan TV (LCD backlight).

Hal ini membuat ragam cahaya dari jajaran lampu LCD yang menimpa setiap kristal bakal memicunya untuk menghasilkan spektrum warna yang lebih luas. Berkolaborasi dengan adopsi panel In-Plane Switching LG dengan color enhancer, peningkatan akurasi warna dan kecerahannya dikatakan mencapai lebih dari 30% dibanding TV LCD/LED konvensional.

Untuk menciptakan pengalaman menonton yang lebih menyeluruh, tak cuma soal visual, perhatian LG pada 4K Ultra HD TV terbarunya ini juga menyentuh pada sisi audio. Demi mewujudkannya, LG mempercayakan pabrikan Harman-Kardon yang telah sangat dikenal sebagai pembuat sistem audio kelas premium untuk sistem audio LG Super UHD TV. "Dengan tenaga lebih baik pada penghantar bunyi, membuat LG Super UHD TV digdaya untuk memberikan kepuasan menonton bagi penggunanya," ujar Terry lagi.

Pada pemasaran perdana ini, berbagai kemeriahan telah disiapkan LG dengan menggandeng mitra bisnisnya untuk memberikan nilai lebih yang optimal pada calon pembelinya. Dengan menggandeng BCA, calon pembeli pengguna kartu kredit ini tak hanya mendapatkan opsi untuk menikmati cicilan 0% hingga 18 bulan, namun juga potongan harga 500 ribu rupiah. Sementara kemitraan yang terjalin dengan First Media membuat pembeli berhak untuk mendapat layanan TV berbayar provider ini secara cuma-cuma sepanjang dua bulan.

Di luar itu, kemeriahan bakal didapat dari berbagai hadiah langsung yang disiapkan LG bagi setiap nominal pembelian tertentu. Mulai dari potongan harga hingga ragam produk LG. Setiap pengunjung juga bakal mendapat kesempatan untuk mengikuti lelang OLED TV dengan harga patokan dasar dimulai dari 10 juta rupiah saja. “Berbagai kemeriahan ini kami siapkan sebagai undangan bagi setiap pengunjung untuk menyaksikan, merasakan dan memiliki langsung inovasi terkini dari LG Super UHD TV yang telah siap di Indonesia,” ujar Terry.

Grup media analisa Institut für Höhere Studien (IHS) sempat mengeluarkan analisanya soal pasar UHD yang baru mulai beberapa tahun terakhir. Analisa tersebut menyebutkan hanya 33.000 unit TV UHD yang terjual dari total 200 jutaan unit TV LCD yang terjual secara global. Kendati demikian, UHD TV bukanlah teknologi yang cepat datang dan cepat ditinggalkan. Teknologi ini akan tetap digunakan sampai belasan tahun mendatang. Tepatnya, akan mencapai puncak pada 2017 dan diprediksi menjadi standar global pada 2023.

Menurut prediksi IHS, butuh waktu setidaknya 10 tahun bagi UHD untuk bisa di akses secara massal di seluruh dunia. Sampai saat itu tiba, secara bertahap ekosistemnya terutama terkait konten akan mulai terbentuk secara berlahan. Misalnya saja Olimpiade 2016 mendatang yang sebagian besar dapat disiarkan dalam bentuk UHD. Begitu juga dengan Piala Dunia tahun depan (setidaknya pertandingan final bakal disiarkan dalam format UHD).

Pada 2017 nanti, format UHD diprediksi akan mencapai tahap seperti resolusi HD pada 2002. Saat itu konten UHD akan semakin banyak dan semakin mudah di dapatkan. Di negara berkembang seperti Indonesia, kematangan ekosistem UHD diprediksi baru akan tercapai pada 2018-2021.

Pada 2020, misalnya, diperkirakan akan ada lebih dari 200 channel UHD di seluruh dunia dan melonjak jadi 1000 channel pada 2025. Pada saat itu, UHD menjadi resolusi standar, dan diperkirakan 50% dari total pengapalan TV di seluruh dunia berformat UHD. "Hal ini sama seperti format HD TV yang sudah ada pada 1990, akan tetapi butuh 12 tahun supaya ekosistemnya tersedia di pasar (pada 2002), dan baru 2006 resmi menjadi format umum di pasaran," ungkap analisanya.

Related posts