Perilaku Mahasiswa Yang Mengharukan - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Memang sebagai mahasiswa sehari-hari diajak untuk berpikir dan melakukan sesuatu atas pertimbangan rasional, obyektif, dan fungsional. Sikap tersebut diperlukan bagi orang yang sehari-hari melakukan kegiatan akademik, yaitu mencari kebenaran yang seharusnya dilakukan secara mendalam dan luas. Orang yang tidak mampu berpikir obyektif, rasional dan bertanggung jawab tidak akan tepat menjadi seorang ilmuwan.

Namun demikian ada saja mahasiswa yang perilakunya itu tidak selalu didasarkan pada pertimbangan sebagaimana dimaksudkan itu, melainkan juga didasarkan pada nilai-nilai yang tidak selalu rasional dan obyektif itu. Apalagi perilaku yang berhubungan dengan orang-orang tertentu, misalnya dengan orang tuanya sendiri, guru, dan atau juga kepada yang berumur lebih tua.

Mahasiswa telah mengerti terhadap apa yang disebut dengan akhlak mulia. Sebagai pertanda orang yang memiliki identitas tersebut, maka mereka merasa dirinya harus tampil atau menunjukkanh perilaku yang diangapnya terbaik, yaitu bersopan santun, tawadhu' kepada orang tuanya sendiri, guru, dan juga kepada siapa saja yang dituakan. Mereka merasa enak tatkala mampu menampakkan diri atau berperilaku secara tepat.

Akhir-akhir ini banyak orang merasa gelisah atas perilaku para siswa atau mahasiswa yang semakin bebas, atau liberal kepada orang-orang yang seharusnya dihormati. Dsisebutkan bahwa sudah semakin tidak ada bedanya berkomunikasi antara kepada temannya sendiri dengan kepada dosen atau gurunya.

Berbeda dengan penilaian tersebut, saya justru merasakan sebaliknya. Banyak mahasiswa, atau saya sebut pada umumnya, semakin mampu menghormati para guru, orang tua, atau dosennya sendiri. Bahkan, kadang saya merasakan bahwa perilaku takdzim, sopan atau tawadhu' itu terasa berlebih-lebihan hingga melahirkan keharuan yang amat mendalam.

Suatu contoh sederhana, pada setiap berangkat menuju masjid kampus untuk shalat berjama'ah, saya selalu mengenakan sandal. Sebagaimana jama'ah pada umumnya, saya membiarkan sandal yang telah saya tingalkan di sebelah depan teras masjid. Anehnya, pada setiap mau mengambil kembali sandal saya itu, ternyata alas kaki itu sudah tertata rapi, sehingga memudahkan mencari dan sekaligus menggunakannya kembali.

Bisa dipastikan bahwa, orang yang menata kembali sandal sederhana itu adalah mahasiswa yang ikut shalat berjama'ah di masjid itu. Mahasiswa yang sedemikian berusaha menghormati guru atau dosennya itu rupanya tidak seorang saja, tetapi juga dilakukan oleh lainnya. Buktinya, saya shalat di masjid kampus yang berbeda juga diperlakukan secara sama.

Perilaku tersebut tentu tidak tergolong rasional,atau paling tidak sulit dikmengerti, umpama hanya didasarkan pada pertimbangan rasional belaka. Perilaku seperti digambarkan itu pasti atas dasar pertimbangan nilai-nilai yang dimiliki dan dijunjung tinggi, misalnya merasa berkeharusan bertakdzim atau tawadhu' pada guru, orang tua, atau dosennya.

Seingat saya, perilaku yang menurut saya sangat mengharukan itu mulai muncul dan kemudian menjadi terbiasa adalah setelah kampus UIN Malang dilengkapi dengan Ma'had al Aly. Setelah dibangun Ma'had itu, mungkin para mahasiswa mengidentifikasi dirinya sebagai santri, dan oleh karena itu, mereka merasa harus menjaga prinsip-prinsip yang pada umumnya berlaku sebagai seorang santri tatkala berhubungan dengan para guru, pengasuh, atau dosennya.

Bahkan, terasa berlebihan, dan pasti melahirkan kesan haru yang amat mendalam atas perilaku mahasiswa yang sedemikian takdzim kepada gurunya. Perilaku menata sandal milik orang lain itu ternyata tidak saja tatkala di masjid, tetapi juga ketika mereka berkunjung ke rumah gurunya. Suatu ketika,saya kedatangan mahasiswa di rumah. Sudah menjadi kebiasaan, beberapa sandal di depan rumah berserakan tidak teratur. Rupanya, mahasiswa yang bertamu, setelah pamit, sebelum meninggalkan rumah, mereka menata sandal yang berserakan tersebut terlebih dahulu, baru kemudian pulang.

Dulu ada seorang dosen yang merasa berpikiran modern, mengkritik keras mahasiswa yang ketika bersalaman dengan dosen, menunjukkan sikap tawadhu'nya dengan cara mencium tangan gurunya itu. Sebagai pimpinan kampus, saya tidak pernah merespon kritik dimaksud. Namun entah oleh karena alasan apa, dosen dimaksud justru mengusulkan agar perilaku tawadhu' para mahasiswa sebagaimana yang semula diprotes itu, supaya dijadikan kebanggaan.

Rupanya, dosen dikmaksud telah mendapatkan pelajaran dari mahasiswanya sendiri bahwa, bersalaman dengan mencium tangan adalah bentuk penghormatan sebagai anak atau mahasiswa kepada orang tua dan atau dosennya. Mungkin dosen dimaksud juga merasa haru tatkala mahasiswanya mencium tangannya sebagai bentuk kasih sayang dan rasa hormat, serta dirasakan sebagai keindahan yang luar biasa. (uin-malang.ac.id)

Related posts