Jelang Pasar Bebas Asean, Sudah Siapkah Kita? - Oleh: David KH, Pengamat Sosial Ekonomi

Pasarbebas Asean segera ber­laku akhir tahun ini. Beragam reak­si pun bermunculan atas ke­bijakan yang sudah disepakati oleh para pemimpin ASEAN satu de­kade yang lalu. Seperti biasanya, se­tiap kebijakan tentu saja me­mun­­culkan reaksi pro dan kontra. Ma­sing-masing pihak mempunyai ar­gu­men dan pertimbangan sen­diri. Mempermasalahkan dan mem­per­debat­kan hal ini tentu saja menjadi langkah mundur bagi kita.

Fakta dan masalah harus dipisah­kan secara jelas. Fakta bahwa per­janjian ini sudah disepakati satu de­kade yang lalu, dan pasti dilak­sanakan tahun ini juga sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Masalah yang sering dide­ngungkan oleh be­berapa pengamat ekonomi dan sosial tidak akan merubah fakta bahwa “Masya­rakat Ekonomi Asean” sudah terbentuk.

Kesiapan Pengusaha dan Pemerintah

Di tengah-tengah hingar bingar sosial politik dan perdebatan para pakar ekonomi, ternyata sebagian pengusaha telah memilih untuk siap bertarung dalam pasar yang berna­ma ASEAN ini. Langkah-lang­­kah kecil telah diayunkan dalam rangka menggapai kesem­patan untuk ekspansi pasar ke luar negeri, mulai dari disain produk, efisiensi, pe­ningkatan lini produksi sampai usa­ha-usaha pemasaran yang semakin kreatif.

Lalu, apakah pengusaha kita mampu bertarung sendiri meng­hadapi pesaing-pesaing luar negeri yang didukung peme­rintahnya ma­sing-masing dan didukung dengan sistem yang telah sangat mapan.

Pihak Pemerintah yang tentu sa­ja memikul tugas dan tanggung ja­wab paling besar dalam hal ini, se­lalu berusaha membimbing dan mendorong pengusaha Indonesia untuk maju ke pasar Asean. Usaha-usa­ha menuju ke arah sana sudah dila­kukan berupa dukungan para Duta Besar yang bersinergi dengan Departemen Perdagangan RI. Salah satunya adalah berbentuk pameran di luar negeri.

Pameran Berskala Interna­sional

Baru-baru ini pihak pemerintah Indonesia mengkoordinir beberapa pengusaha furniture yang telah siap untuk menjadi pionir dengan me­ngikuti pameran berskala Interna­sional yang mengambil tema :The 21st Malaysia International Furniture Fair (MIFF)2015 yang berlangsung pada 3-7 Maret 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Dalam pameran yang diikuti oleh 500 peserta dari 14 negara, pe­ngusaha Indonesia berhasil mem­bukukan transaksi sebesar US$ 850 ribu. Suatu langkah awal yang sangat berharga untuk dija­dikan modal mental dalam langkah-langkah berikutnya.

Selama ini paradigma yang me­lekat pada benak masyarakat yang berdomisili di luar Pusat Pemerin­tahan (Jakarta) adalah ketimpangan perhatian pemerintah pusat pada pengusaha di daerah (luar Jakarta/pulau Jawa). Namun, sebagaimana ungkapan “Saat murid siap, maka Sang Guru pun muncul”. Dalam hajatan ini, salah satu peserta yang cukup mendapat perhatian adalah produsen dari kota Medan, yang mengusung merk Helux International. Atase perda­ga­ngan Indonesia di Malaysia, Fa­jarini Puntodewi mengungkap­kan apresiasinya atas kesiapan PT Ocean Centra Fur­nin­do selaku pe­milik merk Helux In­ternational dalam mendukung program ini.

"Selain memperkuat branding pro­duk Indonesia di Malaysia, pa­meran ini dapat mendorong pening­katan ekspor dan perluasan pasar furnitur Indonesia tidak saja di Malaysia namun juga pasar interna­sional," tutur Fajarini.

Pengusaha asal Medan pada ke­sem­patan itu memamerkan mema­merkan produk-produk unggulan­nya berupa springbed dan mattress mampu mensejajarkan diri dengan produk dari merk-merk internasio­nal lainnya. Transaksi berhasil dibu­kukan dengan pembeli dari ne­gara-negara Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan negara-negara Asia seperti Jepang, Nepal, Filipina, dan Thailand, selain juga dari Malaysia sendiri.

Dalam perjalanan panjang me­nuju pasar ASEAN, kita tidak da­pat lagi hanya jago kandang. Ha­rus berani melangkah dan berta­rung dengan merk-merk luar negeri. Kita tidak dapat menjadi pe­ngu­saha cengeng dan lemah yang menuntut proteksi peme­­rintah.(analisadaily.com)

Related posts