Dunia Butuh Sains, Dan Sains Butuh Perempuan

Program sains L’Oréal membekali para perempuan untuk memajukan sains

NERACA

Selama lebih dari satu dasawarsa, L’Oréal Indonesia bersama Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (KNIU Kemdikbud) mendukung perempuan muda dan perempuan peneliti melalui programL’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS)danL’Oréal For Girls in Science (LGIS). Tahun ini, L’Oréal sebagai perusahaan yang berakar pada sains, memulai inisiatif sains yang menarik dan terintegrasi melalui peluncuranL’Oréal Sorority in Science (LSIS)– sebuah program bagi mahasiswi yang memiliki prestasi luar biasa.

L’Oréal Sorority in Science adalah program beasiswa bagi mahasiswi kurang mampu yang mengambil bidang studi sains serta memilih sains sebagai karir masa depan mereka. Mahasiswi yang terpilih akan mendapatkan Rp 20 juta untuk digunakan sebagai biaya hidup ataupun pendidikan mereka. L'Oréal-UNESCO FWISfellowsNasional sangat terlibat dalam sosialisasi program LSIS.

“Sains adalah kunci untuk mendorong dan mempercepat kemajuan sebuah negara – tanpa sains, negara tidak akan dapat maju secara sukses dan berkelanjutan. Sebagai perusahaan yang menaruh perhatian pada sains lebih besar dari perusahaan kecantikan manapun di dunia, L’Oréal bersama KNIU bertekad meningkatkan jumlah perempuan peneliti dengan menerapkan program sains terpadu bagi perempuan, terlepas dari tahapan jenjang pendidikan mereka. Dengan demikian, L’Oréal bertujuan untuk menunjukkan bahwa kecantikan adalah sains dan perempuan yang mengkaji sains lebih dalam memberikan kontribusi yang indah bagi dunia,” jelasHead of Communications, PT L'Oréal Indonesia, Melanie Masriel

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia menyatakan bahwa pada tahun 2014 terdapat 239.339 mahasiswi yang meraih gelar S1 dan 18.560 mahasiswi yang meraih gelar S2, namun hanya 516 mahasiswi yang melanjutkan ke tingkat doktoral. Ini berarti hanya 0,2% mahasiswi peraih gelar S1 yang memutuskan untuk meraih gelar PhD. Selain itu, hanya 52% dari total populasi di Indonesia mengenyam pendidikan dasar. Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, seperti India (61%). Inilah salah satu alasan mengapa selain menjalankan program L’Oréal-UNESCO FWIS dan LGIS, L’Oréal meluncurkan program LSIS yang bertujuan untuk mempromosikan sains kepada mahasiswi yang kurang mampu.

“Berdasarkan data terbaru mengenai jumlah mahasiswi di Indonesia, hanya 7% perempuan lulusan S1 yang meneruskan ke jenjang S2 dan hanya 3% perempuan lulusan S2 yang menempuh program doctoral selama 10 tahun terakhir. Sangatlah disayangkan bahwa perempuan masih belum terwakili dengan baik di semua tingkat penelitian ilmiah, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun meraih hasil yang sangat baik di tingkat universitas, relatif hanya sedikit perempuan yang sampai ke posisi strategis di bidang penelitian. Dengan usaha dan dukungan yang berkelanjutan, KNIU berharap rangkaian program sains dari L'Oréal akan dapat meningkatkan jumlah perempuan peneliti untuk kemajuan masyarakat di Indonesia”, ujarKetua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU Kemdikbud), Prof. Dr. Arief Rachman MPd

Selama lebih dari satu dekade, L’Oréal telah memberikan penghargaan berupa beasiswa FWIS Nasional kepada para peneliti perempuan muda untuk kategoriLife SciencedanMaterial Sciencesenilai masing-masing Rp 80 juta kepada setiap pemenang. Hingga kini, L’Oréal telah memberikan beasiswa kepada 37fellowsuntuk melakukan proyek penelitian, dimana 5 diantaranya telah diakui secara internasional.

“Saya merasa terhomat diberikan kepercayaan menjadi ketua juri untukLife & Material Sciencesdari program L’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS) Nasional 2015. Semua proposal yang terpilih memenangkanfellowshipdari FWIS National memiliki satu kesamaan, dimana semuanya bertujuan membantu memberikan masa depan yang baik bagi umat manusia, terutama di Indonesia. Kami berharap agar lebih banyak lagi perempuan peneliti ikut berpartisipasi dalam program ini dan mereka mampu menjadi panutan bagi generasi muda kita”, ujarKetua Juri L’Oréal-UNESCO FWIS, Prof. Dr. Endang Sukara

“L’Oréal-UNESCO FWIS Nasional adalah programfellowshipbergengsi dan saya bangga serta bersyukur dapat menjadi bagian dari komunitas ini. Saya mendorong para perempuan muda peneliti untuk berpartisipasi dalam program ini. Melalui FWIS, saya tidak hanya mampu mengembangkan penelitian saya lebih lanjut, tapi juga telah berbagi pengetahuan saya dengan para ilmuwan dan mahasiswa lain,” jelasdrh. Fitriya Nur Annisa Dewi, PhD, FWIS Nasional 2014fellow.

Bagi para siswi SMA, perusahaan kecantikan #1 di dunia ini menyelenggarakan kompetisi sains tahunan, bertajuk L’Oréal Girls in Science untuk mempromosikan sains sebagai pilihan karir yang menyenangkan dan kreatif. Batas akhir pengiriman proposal pada 6 Mei 2015. Sedangkan untuk L’Oréal-UNESCO For Women in Science pada 18 September 2015.

"Hari ini, kami mengajak semua perempuan peneliti muda Indonesia untuk menjadi bagian dari keluarga besar L’Oréal-UNESCO For Women in Science dengan mengirimkan proposal penelitian mereka. Program L' Oréal FWIS dan L'Oréal For Girls in Science siap menginspirasi generasi muda untuk mengupas lebih dalam lagi tentang sains. Program terbaru kami, L'Oréal Sorority in Science diharapkan mampu menjadi jembatan dari L' Oréal - UNESCO FWIS dan LGIS,” pungkas Melanie Masriel.

Related posts