Pelemahan Rupiah Bikin Rugi Pemilik Kapal

NERACA

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai merugikan nelayan yang menjadi pemilik kapal karena suku cadang kapal masih banyak yang diimpor. “Pelemahan rupiah sangat merugikan banyak pihak di Indonesia. Misalnya, nelayan yang membutuhkan penggantian 'sparepart' kapalnya, akan merasakan dampak keras dari akibat pelemahan rupiah,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (17/3).

Menurut Yugi, dampak keras tersebut antara lain karena pembelian suku cadang kapal harus melalui mekanisme impor. Selain itu, ujar dia, dampak pelemahan rupiah juga dirasakan oleh pengusaha perikanan berorientasi impor yang bahan bakunya harus diimpor dari luar negeri. Ia mencontohkan, pakan ikan dan impor ikan berkelas dari luar negeri seperti ikan salmon dan "king crab Alaska", yang harus segera mengubah tarifnya.

Jika tidak segera mengubah tarifnya, Kadin mengingatkan bahwa pengusaha tersebut akan semakin tertekan dengan pelemahan rupiah yang terus berlanjut. “Kalau tidak ada penyesuaian, maka akan semakin berat. Mau sampai berapa hitungan dolar Amerika saat ini, semakin sulit ditebak,” ujarnya.

Yugi berharap pemerintah bisa menjaga nilai tukar sesuai target di dalam APBN Perubahan 2015 yang dipatok Rp 12.500 per dolar Amerika Serikat. Dengan nilai tukar seharga itu, kalangan eksportir dan importir dinilai akan nyaman. Ia mengkritik pejabat pemerintah yang mengumbar pernyataan bahwa ekonomi masih aman asalkan nilai tukar dolar di bawah Rp 15.000. "Membuat spekulan terus memainkan kurs rupiah," katanya.

Menurut Yugi, dampak buruk melemahnya rupiah tidak hanya dirasakan pengusaha kecil. Kelompok industri besar juga terkena imbasnya. Namun pengusaha kelas atas terlindungi sebab memiliki kesepakatan dengan bank tentang hedging atau nilai lindung utang. Manfaat hedging adalah cicilan dan nilai pembayaran utang bisa diselesaikan meski membutuhkan waktu lama.

Untuk di industri perikanan, Yugi mengakui bahwa pelemahan rupiah juga memberikan keuntungan bagi industri perikanan yang orientasinya pada ekspor. “Sektor perikanan justru diuntungkan (pelemahan rupiah). Karena sektor perikanan kita sebagian besar orientasinya ekspor, semuanya ekspor sehingga ini menguntungkan," tuturnya.

Dia mengatakan, sektor perikanan saat ini memiliki kandungan lokal (local content) hingga 100%. Artinya, komponen produksi untuk industri ini sebagian besar dibiayai oleh mata uang Garuda, namun pendapatannya didapat dalam bentuk USD.

Menurutnya, kondisi ini juga berlaku untuk sektor lainnya yang memiliki kandungan lokal yang tinggi seperti industri tekstil dan produk tekstil serta industri lain dengan bahan baku yang bisa diperoleh dengan mudah di dalam negeri. “Kondisi sebaliknya justru merugikan untuk yang banyak impor dan kegiatan industrinya memakai Dolar,” pungkasnya.

Nilai tukar rupiah masih belum menunjukkan penguatan. Posisi indeks dolar yang melampaui level 100 membuat rupiah dan sebagian mata uang regional kembali melemah terhadap dolar Amerika. Pada Senin 16 Maret 2015. Hingga pukul 12.00 WIB, rupiah melorot 37 poin (0,28 persen) ke level 13.242 per dolar. Penurunan ini tidak seburuk won Korea Selatan yang turun 0,55 persen ke level 1.134,78 per dolar, dan ringgit Malaysia anjlok 0,60 persen pada level 3,7075 per dolar.

Menurut Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, kenaikan tajam indeks dolar mengkonfirmasi spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Fed rate) dalam pertemuan The Fed tengah pekan ini.

Related posts