Neraca Perdagangan dan Kurs Rupiah

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. Pada penutupan pasar uang Jumat (13/3) tercatat nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 37 poin menjadi Rp. 13.187. Sementara kurs tengah Bank Indonesia juga di tutup melemah menjadi Rp. 13.191 per US$. Trend pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring dengan membaiknya perekonomian di Amerika Serikat. Hal ini akan semakin memperkuat indikasi The Fed akan menaikkan suku bunga dengan bersamaan pula penghentikan program quantitative easing III. Jelas, risiko capital outflow terus membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Di sisi lain, neraca transaksi perdagangan Indonesia mencatatkan surplus. Pada bulan Januari 2015, tercatat surplus neraca perdagangan kita sebesar US$ 709,3 juta. Sementara itu, pada Februari 2015 banyak pihak yang memperkirakan neraca perdagangan kita kembali surplus. BI memperkirakan surplus neraca perdagangan kita pada Februari dapat surplus sekitar US$ 500 juta.

Namun banyak kalangan yang melihat bahwa surplus terjadi karena impor barang modal untuk belanja infrastruktur belum terjadi pada awal tahun 2015. Dikhawatirkan ketika belanja infrastruktur direalisasikan maka akan terdapat lonjakan impor dan membuat neraca perdagangan kita menjadi defisit.

Hubungan antara ke dua hal ini kemungkinan menjelaskan mengapa surplus neraca perdagangan kita tidak mampu menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Besar kemungkin banyak importir yang justeru berburu valas saat ini sebagai langkah antisipatif dan pengamanan kecukupan dolar AS kalau belanja infrastruktur dimulai dan impor besar-besaran dilakukan. Selain itu juga, kebutuhan dolar AS di pasar domestik menjelang pembayaran dividen dan cicilan utang luar negeri juga semakin memberikan tekanan dari sisi permintaan. Hal ini pula yang membuat surplus neraca perdagangan kita menjadi kurang berarti dalam memberikan sentimen positif untuk menahan laju depresiasinya terhadap dolar AS.

Bagi pelaku pasar uang, volatilitas mata uang membuat banyak investor mencari aset yang relatif stabil dan menguntungkan. Di tengah volatilitas harga minyak mentah dunia dan harga emas, mata uang dolar AS dianggap memiliki nilai lebih stabil. Semakin membaiknya perekonomian di Amerika Serikat membuat banyak investor di pasar uang yang kembali memegang mata uang dolar AS sebagai safe-heaven currency karena dianggap sebagai mata uang yang stabil dan memiliki prospek yang baik di masa depan. Hal ini juga menjadi faktor penjelasan mengapa tekanan terhadap nilai tukar mata uang rupiah terjadi di tengah surplus neraca perdagangan kita.

Tentunya kita semua berharap bahwa trend surplus neraca perdagangan masih akan terus berlanjut. Mengelola impor baik nilai maupun volume perlu terus dilakukan oleh pemerintah maupun BI. Sementara itu, upaya untuk ekstensifikasi dan intensifikasi ekspor perlu terus dilakukan untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional.

Kecukupan pemenuhan valas dalam negeri juga perlu terus ditingkatkan dengan memberikan stimulus kepada eksportir untuk menaruh devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri. Melalui langkah-langkah makroprudensial dan upaya memperbesar supply valas dalam negeri, kita optimistis nilai tukar rupiah akan lebih terkendali di tengah ketidakpastian likuiditas dan keuangan global.

Related posts