Krisis Energi akibat Bancakan Politik?

NERACA

Jakarta - Dalam kurun 15 tahun terakhir, sektor energi Indonesia mengalami keterpurukan, tidak ada cadangan migas besar yang ditemukan, produksi menurun. Bahkan sekarang ini, ada ancaman krisis listrik dan gas bumi. Hal tersebut terjadi, karena sektor energi menjadi bancakan politik.

"Masalah energi nasional dalam 15 tahun ini terjadi, karena bagi-bagi kue kekuatan politik. Di situlah masalah besarnya, sehingga kita dilanda krisis energi, " kata Menteri ESDM Sudirman Said di Jakarta, Jumat (13/3) pekan lalu.

Sudirman memberikan contoh, ancaman krisis listrik yang di depan mata, dan beberapa daerah kekurangan listrik, karena proyek pembangkit listrik tidak terselesaikan. Ini karena para kontraktor listrik mempunyai kedekatan dengan partai politik.

"Misalnya kontrak pembangunan pembangkit energi listrik, itu proyeknya dibagi-bagi ke kontraktor-kontraktor. Sementara yang mendapatkan proyeknya bukan kontraktor yang punya kapasitas baik, mereka dapat karena kedekatan politik," ujarnya.

"Jadi, ketika proyek listriknya mangkrak, PLN menegur atau mau beri sanksi, yang ditegur (kontraktor) justru lebih galak. Akibatnya 10 tahun proyeknya tidak jalan," tambahnya.

Sudirman mencontohkan lagi, ada pembangkit listrik kekurangan gas, ada pula industri-industri kekurangan gas, hal ini terjadi karena ada perusahaan trader gas yang hanya bermodalkan kertas, tapi tidak punya infrastruktur.

"Makanya, dalam 4 bulan pemerintahan ini, kita benahi semua, tidak ada lagi lucu-lucuannya, tidak ada lagi PLN beli gas harus ke pihak ketiga, atau sebaliknya Pertamina atau PGN jual gasnya ke pihak ketiga, lalu gasnya dibeli BUMN. Sekarang penataan energi sudah lebih baik, SKK Migas, Pertamina, PGN, PLN, dan Kontraktor Kontrak Kerjasama duduk bersama berdialog, selesaikan masalah," tuturnya.

Sedangkan menurut, Pendiri Medco Group, Arifin Panigoro mengingatkan krisis energi yang menimpa Indonesia bukan lagi suatu wacana. Ia menilai akan semakin berat bagi Indonesia ke depannya jika tidak mampu mencukupi kebutuhan energi nasional. Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi perlu adanya pasokan energi yang cukup. "Artinya, kalau di dalam negeri tidak ada ya harus impor. Apa mau kita hidup bergantung pada pasokan energi dari luar negeri terus," katanya.

Saat ini, kebutuhan energi nasional mencapai 4,5 juta barrel setara minyak per hari. Menurutnya, jumlah ini akan meningkat menjadi 7,7 juta barrel setara minyak per hari pada 2025 mendatang.

Padahal, Ia menambahkan, kemampuan produksi minyak nasional saat ini berkisar di bawah 800 ribu barrel per hari. Kemampuan ini diyakini akan terus menurun hingga 453 ribu barrel per hari dalam sepuluh tahun mendatang seiring merosotnya oil lifting nasional. "Ini wake up call bagi semua pihak, mulai dari presiden, menteri, kalangan usaha hingga generasi muda bahwa Indonesia dalam krisis energi," jelasnya. [agus]

Related posts