Ekonomi Global Jangan Dijadikan Alasan - Rupiah Makin Terdepresiasi

NERACA

Jakarta - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Bahkan, rupiah sempat menyentuh angka Rp 13.200 per dolar AS.

Pemerintah selalu mengatakan, pelemahan rupiah sebagai dampak kondisi perekonomian dunia. Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Mandiri Institute, Destry Damayanti sepakat, ekonomi Indonesia memang belum berpengaruh signifikan terhadap pelemahan Rupiah. Namun, kondisi ekonomi global tidak bisa dijadikan alasan melemahnya nilai mata uang.

"Memang rupiah jatuh ada pengaruhnya dari ekonomi global, tapi jangan terus-terusan menjadi alasan," katanya di Jakarta, Rabu (11/3).

Jika pemerintah selalu mengatakan bahwa depresiasi atau pelemahan rupiah tidak terlalu parah dibanding negara lain, Destry justru punya pandangan sebaliknya.

Depresiasi rupiah saat ini terlalu dalam dibanding negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand. Jika dihitung dari awal tahun, depresiasi rupiah diperkirakan mencapai tujuh persen.

"Sekarang depresiasi sudah tujuh persen maka akan ada penambahan inflasi 0,6%. Ini akan memberatkan target pemerintah dan BI untuk capai inflasi sesuai target," kata dia.

Terlepas dari itu, staf ahli menteri BUMN ini sependapat, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini disebabkan suplai valuta asing (valas). Permintaan dolar untuk keperluan ekspor dan pembayaran utang luar negeri terus meningkat, sehingga dolar menguat.

Dia mengingatkan dampak pelemahan rupiah terhadap sektor industri. Terutama karena banyak industri di dalam negeri masih melakukan impor bahan baku.

"Kita impor bahan baku itu besar sekali 76% impor kita bahan baku, 17% impor kita barang modal. Jadi hal produktif semua impor. Biaya impor akan naik dan akan memukul pengusaha," ucapnya.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, Direktur Indef, Enny Sri Hartati menilai, depresiasi rupiah terhadap dollar AS memang karena factor eksternal dimana kondisi ekonomi Amerika yang membaik mengakibatkan banyak dana asing ke luar. Tapi perlu dicatat depresiasi rupiah ini juga karena factor internal karena memang fundamental dalam negeri yang rapuh. “Depresiasi rupiah ini memang karena factor eksternal, tapi factor internal juga sangat kuat karena ekonomi Indonesia yang sedang lesu, ditambah fundamental ekonomi yang rapuh,” katanya.

Selain itu, factor lain yang mengakibatkan depresiasi rupiah salah satunya adalah kegaduhan politik yang memperngaruhi investasi. Investor melihat kondisi politik yang kurang kondusif menjadikan mereka tidak nyaman. “Situasi politik nasional yang tidak kondusif juga salah satu faktor investasi berjalan lamban, yang berakibat rupiah kian terdepresiasi,” imbuhnya.

Dirinya juga memproyeksikan kondisi depresiasi rupiah akan berlangsung, melihat kita tidak bisa lagi mengandalkan ekspor nasional, mengingat kita masih mengandalkan ekspor komoditas, sedangkan harga komoditas dunia sedang jatuh. Langkah yang harus dilakukan tidak lain pemerintah harus bisa menggulirkan kebijakan di investasi dengan memberikan insentif, seperti memberikan kemudahan perizinan dan itu pun untuk sektor tertentu seperti sektor komersial. Tapi tidak untuk sektor-sektor strategis. “Perlu ada insentif untuk investor asing guna menarik dana dari luar, tapi tidak untuk di obral, hanya sektor tertentu saja,” pungkasnya. [agus]

Related posts