Tingkatkan Kualitas Pelayanan Apoteker

NERACA

Untuk menghindari kesalahan obat di rumah sakit, Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Harsoyo berharap Apoteker dapat meningkatkan kualitas layanan kefarmasian yang berhubungan dengan obat-obatan.

"Hal itu merupakan peran penting apoteker dalam memenuhi tanggung jawab moral dan sosial kepada masyarakat dalam bidang kesehatan," katanya baru-baru ini di Yogyakarta.

Menurut dia, hal itu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. UU tersebut secara terperinci mengatur peran apoteker dalam pelayanan sistem kesehatan nasional.

"Peran apoteker penting dalam kondisi saat ini di mana peredaran obat-obatan dan produk jamu ilegal yang mengandung zat berbahaya semakin sulit dikendalikan," katanya.

Ia mengatakan pada 2014, BPOM menyita obat tradisional ilegal dan mengandung bahan kimia obat senilai hampir Rp27 miliar serta kosmetika ilegal dan mengandung bahan berbahaya senilai lebih dari Rp32 miliar.

"Dengan selesainya prosesi sumpah itu menandakan bahwa apoteker lulusan UII telah siap untuk terjun dan mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat," kata Harsoyo.

Ketua Pengda Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) wilayah Yogyakarta Wimboh Dumadi mengatakan pernyataan sumpah profesi mengandung makna bahwa apoteker telah siap mengemban tanggung jawab moral dan sosial dari profesi yang akan ditekuninya seumur hidup.

"Apoteker baru peerlu secara cepat beradaptasi dengan lingkungan baru mereka agar sukses. Kesuksesan yang bermakna adalah kesuksesan yang membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain," katanya.

Ketua Komite Farmasi Nasional (KFN) Purwadi mengatakan obat-obatan harus dipakai sesuai dengan porsinya. Jika penggunaannya berlebihan justru memberikan dampak negatif bagi pemakainya seperti muncul masalah resistensi antibiotik.

"Dalam hal ini peran edukasi seorang apoteker sangat penting karena banyak orang yang sudah salah kaprah ketika mengkonsumsi obat untuk menyembuhkan penyakit," katanya.

Pelaksanaan sumpah profesi apoteker itu diikuti 100 lulusan Program Studi Profesi Apoteker UII yang terdiri atas 87 perempuan dan 13 laki-laki. Hingga kini UII telah meluluskan 2.427 apoteker.

Related posts