Pemerintah Didorong Bikin Cetak Biru Ekonomi Kreatif

NERACA

Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia DKI Jakarta mendorong pemerintah membuat cetak biru (blueprint) pengembangan ekonomi kreatif nasional. Cetak biru ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku industri ke depan. Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Hipmi Jaya Rama Data di Jakarta, Jumat (27/2) pekan lalu. “Kita butuh cetak biru sebab industri ini sangat strategis ke depan bagi pelaku industri dan perekonomian nasional,” ujarnya.

Rama mengatakan, cetak biru tersebut dapat saja mengadopsi konsep dari Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2025 yang telah dikembangkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pemerintahan sebelumnya. “Inspirasinya bisa dari sana kemudian dimutakhirkan dengan perkembangan-perkembangan terkini di industri kreatif baik secara global maupun nasional. Cetak biru ini disesuaikan dengan visi dan fokus pemerintahan baru,” jelas dia. Rama mengatakan, ekonomi kreatif merupakan sektor strategis dalam pembangunan nasional ke depan. Terhadap PDB, industri ini ditargetkan menjadi tiga besar kontributor untuk product domestic bruto (PDB). Sebelumnya, ekonomi kreatif menempati posisi ketujuh dari 10 sektor ekonomi nasional dengan menyumbang PDB sebesar 6,9% atau senilai Rp 573,89 triliun dari total kontribusi ekonomi nasional. Tak hanya itu, ujar Rama, peranannya dalam penciptaan lapangan kerja juga kian strategis. Ekonomi kreatif menempati posisi keempat dari 10 sektor ekonomi dalam kategori jumlah tenaga kerja pada 2012. Ekonomi kreatif menyumbang 11.799.568 orang atau 10,65% pada total angkatan kerja nasional yang sebesar 110.808.154 orang. “Perkiraan kami menunjukkan usaha di industri ini terdiri atas sekitar 10% dari total jumlah usaha di Indonesia saat ini. Periode 2010-2013 industri kreatif rata-rata dapat menyerap tenaga kerja sekitar 10,6% dari total angkatan kerja nasional. Itu didorong oleh pertumbuhan jumlah usaha di sektor industri kreatif pada periode tersebut sebesar 1%,” ujar Rama. Rama mengatakan, dalam cetak biru tersebut, pelaku industri ingin melihat rencana jangka panjang dan jangka pendek pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif nasional. “Serta bagaimana rencana pengembangan subsektor ekonomi kreatif nasional 2015-2019, “ papar Rama. Dikatakannya, Hipmi sangat mendukung adanya cetak biru tersebut. “Bila diminta kasukan dan pemikiran kami siap,” ujarnya. Menurut Rama, dalam cetak biru tersebut nantinya juga akan terlihat target dan gambaran pemerintah akan peran masyarakat, para talenta, dan pekerja kreatif, pemetaan industri kreatif yang unggulan di pasar domestik dan asing, dan peran wirausahawan nasional.

“Itu belum termasuk bagaimana kita mendorong teknologi dalam mendukung desain dan melayani kebutuhan pasar, resource yakni bagaimana pemanfaatan bahan baku dengan nilai tambah dan tingkat utilitas yang tinggi serta ramah lingkungan. Juga bagaimana peranan masyarakat dalam mengkonsumsi produk kreatif lokal. Jadi, peta jalan industri ini kelihatan ke depan,” ujar Rama. Yang tidak kalah pentingnya, kata Rama, bagaimana kebijakan pemerintah dalam menangani masalah financial intermediary. “Selama ini kan perbankan menghindari pembiayaan di industri ini, kita ingin lihat bagaimana upaya meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan dan industri kreatif,” tutup Rama. [ardi]

Related posts